Langsung ke konten utama

Pahlawanku, Pahlawanmu, Pahlawan Kita Semua


*memperingati Hari Pahlawan 10 November*
Siapa yang tak kenal pahlawan yang satu ini, bahkan setiap anak bangsa merasakan kepahlawanannya di setiap detak jantung yang terasa. Panggil saja dia ibu. Tidak seperti R.A. Kartini, Teuku Umar, Jendral Sudirman maupun pahlawan besar yang lain, pahlawan yang satu ini terekam lebih jelas pada setiap sosok yang kita temui. Bagaimana mungkin dia bukan pahlawan? Sembilan bulan bukanlah waktu yang singkat, kenyamanan tidurnya terganggu, berat yang ditanggungnya bertambah besar, belum lagi dia harus memenuhi kebutuhan si kecil yang terus berkembang di dalam perutnya. Dia harus mempertaruhkan hidup dan matinya pada sesosok kecil manusia yang entah akan menghormatinya atau bahkan menyakitinya. Sampai ketika buah hatinya terlahir ke dunia, dia adalah orang yang paling banyak berjuang.

Pahlawan yang satu ini memang sangat special, perjuangannya tidak terhenti sampai di situ saja, ia masih terus berjuang untuk membesarkan darah dagingnya, tetapi kini akan ada banyak orang yang akan membantunya, katakanlah ayah, sosok yang kuat dan berdiri di samping ibu yang berusaha sabar menghadapimu. Bagaimana bisa dia adalah orang biasa? Padahal setiap tangisanmu merusak tidurnya. Entah apa yang menyebabkan tangisan itu tersentak keluar, ia akan terus mencoba untuk memahami apa yang kau butuhkan. Belum lagi ketika engkau berlatih berjalan, seberapa sering engkau membuatnya sakit pinggang? Bukankah dia pahlawan paling nyata bagi kita?

Kita, haruslah menjadi orang pertama yang tumbuh menghormatinya. Setelah perjuangan panjang yang dialami seorang ibu, kini tiba saatnya kita yang berjuang untuknya, berjuang memenuhi harapannya yang muncul ketika kita menghembuskan nafas pertama di dunia. “Semoga menjadi akan yang sholeh/ sholehah, berbakti pada kedua orang tua, dan berguna bagi nusa dan bangsa.”, ya begitulah bunyi doa yang sering kita lihat pada selembar kertas syukuran bertuliskan nama indah setiap sosok yang terlahir, doa singkat yang penuh makna.

Komentar

Postingan Populer

Lakukan Tugasmu - Insight Buku "Berani Tidak Disukai"

Entah buku ke berapa yang aku baca tahun ini, judulnya Berani Tidak Disukai. Setelah tahun kemarin baca Berani Bahagia, akhirnya baca sekuel pertama yang lebih hits. Keknya biasanya orang-orang baca buku ini dulu baru baca yang berani bahagia. Buku karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga ini ditulis pake konsep percakapan antara filsuf dengan seorang pemuda. Mari kita tulis beberapa insightnya di sini. Insight pertama, hidup kita bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain, tapi sesuatu yang kita pilih sendiri, dan kitalah yang bisa memutuskan bagaimana cara kita menjalani hidup. Tak peduli apapun yang telah terjadi dalam hidup kita sampai ke titik ini, seharusnya tidak ada hubungannya dengan cara kita hidup mulai saat ini. Bahwa kita, yang hidup di sini pada saat ini, menentukan kehidupan kita sendiri. Yang bisa kita lakukan sehubungan dengan hidup kita sendiri adalah memilih jalan terbaik yang kita yakini. Ukuran yang dikenakan orang lain pada pilihan tersebut, itu tugas merek...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...

Identitas - Insight Buku "Atomic Habits"

Buku self improvement selanjutnya di tahun 2024 berjudul Atomic Habis, gak kurang-kurang lah ini buku legend banyak review dimana-mana. Aku bakal tulis beberapa insightnya di sini yaa. Yang pertama, perubahan kecil dan remeh ternyata akan memberikan hasil menakjubkan jika dilakukan selama bertahun-tahun, artinya komitmen kita terhadap proseslah yang akan menentukan kemajuan. Ada tiga tingkat perubahan, yaitu perubahan hasil, perubahan proses, dan perubahan identitas. Cara paling efektif mengubah kebiasaan adalah berfokus bukan pada apa yang ingin dicapai, melainkan tipe orang se perti a pa  yang diinginkan (identitas). Nah makin kenceng kita berpegang pada sebuah identitas, makin sulit bagi kita untuk tumbuh. Jangan mengeidentaskan diri se perti  "aku guru", kalo harus diubah jadi apa dong? Coba ubah identitas dari "aku altet" ke aku "orang yang bermental tangguh dan menyukai tantangan fisik." Jadi identitasnya gak bikin stuck, ta pi bikin tumbuh.  Nah kal...