Langsung ke konten utama

After Gajah Mada Trip

Jogja Part II, Part I bisa dibaca di sini. Malioboro, semua orang pasti kenal tempat yang satu ini. Sepertinya mengunjunginya adalah hal wajib ketika berada di Jogja. Tidak ada kata Malioboro dalam agenda kami, tapi akhirnya tetap saja kami mampir ke Malioboro. Berjalan dari ujung ke ujung, fiuh, amat sangat melelahkan. Belanja? Of course, melihat memilih menawar dan akhirnya membeli. Barang yang paling menarik perhatianku tentu kaos Jogja lengan panjang yang teramat sangat susah dicari J Perjalanan malam berakhir, aku dan bul mendaratkan diri di kasur budheku di Jogja. Ternyata Jalan Malioboro itu sangatlah panjang dan kami benar-benar meninggalkan jejak langkah kami di sana, hihi.

Pagi hari kami pergi ke Pasar Kotagede dekat rumah Budhe, berbelanja jajan, dan tentunya membeli Gudeg Jogja, yummy! Gudeng Jogja ini tiada duanya, hehe. Setelah makan, kami cus berangkat, lagi-lagi kami tampak seperti anak kecil, anak SMP alias selesai makan pulang. Rencana di malam hari yang tertunda akibat terlalu lama menyusuri Malioboro adalah Alun-Alun Selatan. Entah ada apa alun-alun di pagi hari karena “normalnya” tempat ini dikunjungi malam hari, hihi. Tapi rasa penasaran bul untuk melewati dua pohon beringin di sana amatlah sangat tak terbendung, dan akhirnya aku harus menemaninya. Setelah mencoba sekian kali akhirnya bul berhasil melewatinya. Aku yang hanya mencoba dua atau tiga kali tetap tidak berhasil, hihi. Aku sudah cukup puas melewatinya ketika aku ke Jogja sebelum dan sebelumnya, hehe.

Bingung mau ke mana, akhirnya kami ke Taman Sari, tidak jauh dari Alun-Alun Selatan. Berbekal papan penujuk jalan akhirnya ketemu juga tempat wisata yang satu ini. Berjalan-jalan mengelilingi wilayah yang dulu jadi tempat mandi Sultan Hamengkubuwono cukuplah melelahkan karena tampat ini nyaris tergabung dengan pemukiman penduduk. Tempat ini cukup ramai dikunjungi dan tiket masuknya hanya tiga ribu rupiah. Saat sedang asyik mengabadikan pengalaman melalui gambar, kami bertemu dengan sekelompok fotografer laki-laki, mereka menghampiriku dan berkata, “Boleh minta tolong?”. “Apa mas? Minta di fotoin? Ya boleh sinih”, kataku sok tau. “Bukan. Minta tolong jadi model?”, jabawnya. “Hah?” #mblongo #kabur “Gak bakat mas saya”. Hihi, sempet kepedean tapi malu sama takut juga, aku kan gak banyak gaya, kalo foto ya gitu-gitu aja, hehe.



Setelah puas berkeliling, air tentulah hal yang pertama kami cari. Matahari sudah cukup terik, kami putuskan kembali ke Semarang mengingat hari Senin kami harus mulai beraktifas seperti biasa. Lumayan puas lah kami jalan-jalan di Jogja. Meski banyak tempat yang belum dikunjungi, aku cukup puas. Lagian, waktu kecil aku udah biasa bolak-balik Jogja, jadi udah biasa main ke tempat wisata di sana :D #sombongdikit. Udah bosen lah a sampe z nya, ya meski masih gak hafal jalan juga sampe sekarang J Semoga lain kali bisa jalan-jalan lagi di Kota Pelajar ini lagi, Aamiin

Komentar

Postingan Populer

Lakukan Tugasmu - Insight Buku "Berani Tidak Disukai"

Entah buku ke berapa yang aku baca tahun ini, judulnya Berani Tidak Disukai. Setelah tahun kemarin baca Berani Bahagia, akhirnya baca sekuel pertama yang lebih hits. Keknya biasanya orang-orang baca buku ini dulu baru baca yang berani bahagia. Buku karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga ini ditulis pake konsep percakapan antara filsuf dengan seorang pemuda. Mari kita tulis beberapa insightnya di sini. Insight pertama, hidup kita bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain, tapi sesuatu yang kita pilih sendiri, dan kitalah yang bisa memutuskan bagaimana cara kita menjalani hidup. Tak peduli apapun yang telah terjadi dalam hidup kita sampai ke titik ini, seharusnya tidak ada hubungannya dengan cara kita hidup mulai saat ini. Bahwa kita, yang hidup di sini pada saat ini, menentukan kehidupan kita sendiri. Yang bisa kita lakukan sehubungan dengan hidup kita sendiri adalah memilih jalan terbaik yang kita yakini. Ukuran yang dikenakan orang lain pada pilihan tersebut, itu tugas merek...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...

Identitas - Insight Buku "Atomic Habits"

Buku self improvement selanjutnya di tahun 2024 berjudul Atomic Habis, gak kurang-kurang lah ini buku legend banyak review dimana-mana. Aku bakal tulis beberapa insightnya di sini yaa. Yang pertama, perubahan kecil dan remeh ternyata akan memberikan hasil menakjubkan jika dilakukan selama bertahun-tahun, artinya komitmen kita terhadap proseslah yang akan menentukan kemajuan. Ada tiga tingkat perubahan, yaitu perubahan hasil, perubahan proses, dan perubahan identitas. Cara paling efektif mengubah kebiasaan adalah berfokus bukan pada apa yang ingin dicapai, melainkan tipe orang se perti a pa  yang diinginkan (identitas). Nah makin kenceng kita berpegang pada sebuah identitas, makin sulit bagi kita untuk tumbuh. Jangan mengeidentaskan diri se perti  "aku guru", kalo harus diubah jadi apa dong? Coba ubah identitas dari "aku altet" ke aku "orang yang bermental tangguh dan menyukai tantangan fisik." Jadi identitasnya gak bikin stuck, ta pi bikin tumbuh.  Nah kal...