Langsung ke konten utama

Kesempurnaan Bukan Milik Draft Pertama

Setelah tujuh tahun meninggalkan dunia tulis menulis, mari menulis lagi. Alangkah baik jika tulisan ini bermanfaat untuk orang lain, tapi detik ini aku sedang menulis untuk diriku sendiri. Seiring berjalannya waktu, nyatanya perspektif kita terhadap sesuatu juga turut berubah. Seperti saat tulisan ini ditulis, aku sedang menghabiskan banyak waktu untuk diriku sendiri, yang sepertinya sudah lama tidak kulakukan. Rutinitas yang berputar dengan cepat setiap harinya, bising dunia dengan beragam komentarnya, teman yang senantiasa mengajak berkeliling kota, kini sedang terhenti sejenak. Di tengah beragam keterbatasan selama pandemi nyatanya memberi dampak positif untuk fokus pada diri sendiri. Kunikmati dengan amat sangat baik waktu yang berlalu sembari berusaha mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi, seperti saat ini. Saat aku berusaha mengikat memori dengan cara menulis lagi, berharap diriku di masa depan merasa bangga pada diriku di masa kini.

Beberapa waktu lalu, kutemukan seorang memiliki slogan, “No challange, no change”, semacam cocok untuk diriku saat ini. Benar juga, kita membutuhkan tantangan baru untuk berubah, tantangan yang tentunya membuat diri menjadi lebih baik. Sayangnya, komitmenku cukup rendah untuk melakukan sesuatu yang baru. Tapi beruntungnya, lingkungan yang baik memberi teman terbaik untuk melakukan berbagai tantangan bersama-sama. Menyenangkan sekali menghabiskan waktu bersama orang-orang dengan banyak kebaikan bukan?

Untuk semua teman yang hadir dengan banyak kebaikan, terima kasih.

Komentar

Postingan Populer

Lakukan Tugasmu - Insight Buku "Berani Tidak Disukai"

Entah buku ke berapa yang aku baca tahun ini, judulnya Berani Tidak Disukai. Setelah tahun kemarin baca Berani Bahagia, akhirnya baca sekuel pertama yang lebih hits. Keknya biasanya orang-orang baca buku ini dulu baru baca yang berani bahagia. Buku karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga ini ditulis pake konsep percakapan antara filsuf dengan seorang pemuda. Mari kita tulis beberapa insightnya di sini. Insight pertama, hidup kita bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain, tapi sesuatu yang kita pilih sendiri, dan kitalah yang bisa memutuskan bagaimana cara kita menjalani hidup. Tak peduli apapun yang telah terjadi dalam hidup kita sampai ke titik ini, seharusnya tidak ada hubungannya dengan cara kita hidup mulai saat ini. Bahwa kita, yang hidup di sini pada saat ini, menentukan kehidupan kita sendiri. Yang bisa kita lakukan sehubungan dengan hidup kita sendiri adalah memilih jalan terbaik yang kita yakini. Ukuran yang dikenakan orang lain pada pilihan tersebut, itu tugas merek...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...

Identitas - Insight Buku "Atomic Habits"

Buku self improvement selanjutnya di tahun 2024 berjudul Atomic Habis, gak kurang-kurang lah ini buku legend banyak review dimana-mana. Aku bakal tulis beberapa insightnya di sini yaa. Yang pertama, perubahan kecil dan remeh ternyata akan memberikan hasil menakjubkan jika dilakukan selama bertahun-tahun, artinya komitmen kita terhadap proseslah yang akan menentukan kemajuan. Ada tiga tingkat perubahan, yaitu perubahan hasil, perubahan proses, dan perubahan identitas. Cara paling efektif mengubah kebiasaan adalah berfokus bukan pada apa yang ingin dicapai, melainkan tipe orang se perti a pa  yang diinginkan (identitas). Nah makin kenceng kita berpegang pada sebuah identitas, makin sulit bagi kita untuk tumbuh. Jangan mengeidentaskan diri se perti  "aku guru", kalo harus diubah jadi apa dong? Coba ubah identitas dari "aku altet" ke aku "orang yang bermental tangguh dan menyukai tantangan fisik." Jadi identitasnya gak bikin stuck, ta pi bikin tumbuh.  Nah kal...