Langsung ke konten utama

Juru Bicara Bumi - Insight Buku "Kosmos"

KOSMOS, buku non-fiksi selain buku mata pelajaran yang mungkin pertama kali kubaca. Sebenernya tertarik banget sama buku Sapiens, Kosmos, Homo Deus, tapi entah kenapa rasanya males banget ngebacanya, haha. Buku macam ini butuh imajinasi tinggi buat dibaca, gak kaya buku macam self-improvement, maupun novel. Alhasil bacanya lama, dan sekarang bukunya sudah aku hibahkan ke manusia dengan imajinasi tertinggi yang kukenal haha.

Insightnya? Hmm, susah banget nulisnya. Mungkin cuma ada highlight kata-kata yang kesimpen aja. Kosmos jauh lebih tua daripada yang pernah kita bayangkan. Ini buku science tentang alam semesta. Tentang kesulitan kita untuk membayangkan rahasia evolusi yang berlalu ribuan bahkan jutaan tahun lalu. Apalah artinya tujuh puluh juta tahun bagi manusia yang panjang hidupnya hanya sepersejutanya? Kita ini seperti kupu-kupu yang terbang selama sehari dan mengira terbang selamanya. Jadi, gak usah sombong-sombong amat heyy haha. Science hanyalah alat. Tapi sejauh ini sains adalah alat terbaik yang kita miliki, mengoreksi diri sendiri, berlanjut, bisa diterapkan pada segala hal. Sains punya dua aturan. Pertama tidak ada kebenaran sakral, semua asumsi harus diuji dengan kritis. Dua, apapun yang tidak konsisten dengan fakta harus dibuang atau direvisi.

Buku ini memanggil banyak nama, semua ilmuwan yang pernah kudengar maupun kubaca di buku mata pelajaran. Bahkan sampai igauan Kepler di akhir hidupnya, "Jangan biarkan aku tampak telah menyia-nyiakan hidupku". Buku ini juga sedikit mengulas masalah peradaban akhir-akhir ini. Kemungkinan terjadi efek rumah kaca yang tak terkendali mendorong kita supaya berhati-hati. Tapi nyatanya, kita tidak memahami efek jangka panjang atas tindakan-tindakan yang kita pilih dalam keseharian. Apakah kita menganggap keuntungan jangka pendek lebih penting dari keselamatan Bumi? Atau akankah kita berpikir jangka panjang, dengan memikirkan anak cucu kita, untuk memahami dan melindungi sistem penyokong kehidupan kompleks planet kita?

Bumi sangatlah kecil dan rapuh. Bumi perlu dilindungi dan disayangi. Dan memahami di mana kita tinggal adalah syarat penting untuk memperbaiki lingkungan. Kita beruntung, kita hidup, kita kuat, kesejahteraan peradaban kita dan spesies kita berada dalam genggaman kita. Jika kita tidak menjadi juru bicara Bumi, siapa yang akan melakukannya? Jika kita tidak berkomitmen terhadap kelangsungan hidup kita sendiri, siapa yang akan melakukannya? Kita berbicara atas nama Bumi. Kewajiban kita supaya bertahan hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk Kosmos, yang tua dan luas, yang darinya kita berasal.

Dulu sempet bikin caption postingan instagram, eh ternyata kalimat asalnya dari buku ini. "Nitrogen dalam DNA kita, kalsium di gigi kita, besi dalam darah kita, karbon dalam pai apel kita, dibuat di bagian dalam bintang yang tengah runtuh. Kita terbuat dari bahan-bahan bintang." Kita, masing-masing dari kita, bertanggungjawab atas apa yang masuk ke dalam otak kita, dan sebagai orang dewasa kita bertanggung jawab atas apa yang akhirnya kita pedulikan dan ketahui. Tanpa bergantung kepada otak reptil, kita bisa mengubah diri sendiri. Kita adalah spesies langka dan berbahaya. Masing-masing kita dalam sudut pandang kosmik, berharga. Seandainya seseorang tidak sependapat dengan Anda, biarkan dia hidup. Di seratus miliar galaksi, Anda tidak akan menemukan yang sama.


Komentar

Postingan Populer

Lakukan Tugasmu - Insight Buku "Berani Tidak Disukai"

Entah buku ke berapa yang aku baca tahun ini, judulnya Berani Tidak Disukai. Setelah tahun kemarin baca Berani Bahagia, akhirnya baca sekuel pertama yang lebih hits. Keknya biasanya orang-orang baca buku ini dulu baru baca yang berani bahagia. Buku karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga ini ditulis pake konsep percakapan antara filsuf dengan seorang pemuda. Mari kita tulis beberapa insightnya di sini. Insight pertama, hidup kita bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain, tapi sesuatu yang kita pilih sendiri, dan kitalah yang bisa memutuskan bagaimana cara kita menjalani hidup. Tak peduli apapun yang telah terjadi dalam hidup kita sampai ke titik ini, seharusnya tidak ada hubungannya dengan cara kita hidup mulai saat ini. Bahwa kita, yang hidup di sini pada saat ini, menentukan kehidupan kita sendiri. Yang bisa kita lakukan sehubungan dengan hidup kita sendiri adalah memilih jalan terbaik yang kita yakini. Ukuran yang dikenakan orang lain pada pilihan tersebut, itu tugas merek...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...

Identitas - Insight Buku "Atomic Habits"

Buku self improvement selanjutnya di tahun 2024 berjudul Atomic Habis, gak kurang-kurang lah ini buku legend banyak review dimana-mana. Aku bakal tulis beberapa insightnya di sini yaa. Yang pertama, perubahan kecil dan remeh ternyata akan memberikan hasil menakjubkan jika dilakukan selama bertahun-tahun, artinya komitmen kita terhadap proseslah yang akan menentukan kemajuan. Ada tiga tingkat perubahan, yaitu perubahan hasil, perubahan proses, dan perubahan identitas. Cara paling efektif mengubah kebiasaan adalah berfokus bukan pada apa yang ingin dicapai, melainkan tipe orang se perti a pa  yang diinginkan (identitas). Nah makin kenceng kita berpegang pada sebuah identitas, makin sulit bagi kita untuk tumbuh. Jangan mengeidentaskan diri se perti  "aku guru", kalo harus diubah jadi apa dong? Coba ubah identitas dari "aku altet" ke aku "orang yang bermental tangguh dan menyukai tantangan fisik." Jadi identitasnya gak bikin stuck, ta pi bikin tumbuh.  Nah kal...