Ngerasanya males banget baca buku, tapi ternyata setelah direfleksi, justru lebih ke males nulis daripada baca. Kirain udah kelar semua review buku yang kebaca, eh keinget beberapa buku kebeli online. Kali ini buku self-improvement karya Kim Haenam yang kubaca lewat HP, meski ah HP nih selain bikin mata pedes, agak susah juga buat fokus ngebaca tanpa distraksi. Kepikiran beli kindle, tapi kayaknya belum butuh-butuh banget juga. Hmm, okay mari menulis lagi haha. Bismillah dulu..
Mulai dari seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kehilangan orang tersayang. Di sini dijelasin ada empat tahapan masa berduka dari Psikolog John Bowlby, pertama kita akan sangat terhanyut dalam kesedihan, sering mengeluh, dan menyangkal (semisal: kematian seseorang yang kita sayang). Kedua, kita akan merindukan dan mencarinya. Ketiga, kita merasa runtuh dan putus asa, merasa hidup tak berarti, terasingkan dari kehidupan sosial, tidak merasakan perasaan apapun, susah tidur, kehilangan berat badan dan selalu teringat mendiang. Tahap terakhir, penyembuhan. Rasa sakit akan berkurang dan kembali ke masa sekarang. Kita mulai menerima dan menyadari bahwa mereka ada dalam hati kita, dan kita akan merasa senang sekaligus sedih secara seimbang. Sebenarnya untuk melawan kesedihan yang kita alami, akan lebih efektif jika kita memiliki teman untuk berbagi kesedihan dibandingan memendamnya sendirian. Dengan bercerita dan berbagi rasa duka yang kita alami dengan orang lain, ingatan akan orang yang telah meninggal pun mengisi hati masing-masing dan rasa takut akan kesendirian dapat teratasi.
Buku ini sedih banget sih, lebih ke buku kumpulan percakapan seorang pasien dengan psikiater, tentang bagaimana bangkit di tengah begitu banyaknya masalah hidup, seperti judulnya, kupikir segalanya akan beres saat aku dewasa, hal-hal yang perlu diketahui di masa muda. Selanjutnya, tentang pekerjaan. Untuk menjaga kecepatan dalam bekerja, kita tidak boleh menyamakan kecepatan dengan orang lain. Tidak boleh membandingkan diri dengan orang lain. Inget gak sih kalo sehari-hari kita cenderung ngebandingin diri sendiri sama orang lan? Orang yang tidak bisa lepas dari ponselnya juga cenderung akan membandingkan kesuksesannya dengan orang lain dan tidak bisa beristirahat dengan tenang di akhir pekan. Agar tidak cepat lelah, kita harus bisa mengatur kecepatan, dan yang lebih penting adalah, jika tubuh dan hati memberi tanda untuk berhenti, berhentilah sejenak dan pergilah berlibur menyegarkan diri sendiri. Hadiahilah diri dengan meditasi atau melakukan hobi yang sudah lama tertunda. Kalaupun gak bisa bener-bener meninggalkan semua pekerjaan, kerjakan yang paling penting dan tinggalkan lainnya. Meskipun kau melakukannya atau tidak, dunia tidak akan runtuh.
Hidup sebagai pekerja wanita, meski insight ini agaknya belum terlalu relate, tapi inget-inget ya Nes. Kalau harus kerja meski anak masil kecil, perhatikan kualitas. Gak masalah kalau kamu terlambat makan maupun rumahmu berantakan sedikit, itu tidak akan mengakibatkan hal buruk. Harus prioritasin anak dulu, peluk dan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan mereka. Dan, jangan membebankan ambisimu pada mimpi anakmu nanti. Tutuplah matamu dan bayangkan diri sebagai anak. Tentu hal yang bagus jika mereka menjadi orang kaya atau sukses, tapi yang paling penting adalah kebahagiannya. Jadi, harus mendukung setiap langkah dan menyemangatinya.
Ah, bukunya berasa daging semua, banyak yang harus dianotasi buat dibaca lagi di waktu-waktu yang akan datang. Berlatihlah untuk tidak hidup agar dibanggakan orang lain, melainkan oleh diri sendiri. Seberapa pun besarnya pengaruh orang lain di hidupmu, mereka adalah orang lain. Dan, kau lebih hebat dari yang kau perkirakan. Tingkatkan harga dirimu dan cintailah dirimu, bukannya kamu tidak bisa menikah, hanya saja kamu belum menemukan orang yang kamu cintai. Kalau lagi sedih jangan dengerin lagu sedih, nanti semakin sedih, pilih lagu yang seneng. Hmm, dan ternyata jika dilihat ke belakang, orang yang paling banyak menyakiti diri kita dalah kita sendiri. Duarrr!

Komentar
Posting Komentar