Langsung ke konten utama

rela berkorban atau rela menyakiti diri sendiri?

hari ini saya dan teman saya, Wulan, sakit. saya sakit sejak kemarin, badan panas, tenggorokan sakit, juga pilek. huah. dan pagi-pagi kami harus segera datang ke Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) untuk menjalankan amanah yang telah diberikan, yaitu sebagai PPU (Panitia Pemilihan Umum) Ketua Himabio. dan setelah selesai, pikiran kacau karena Mid Matematika di depan mata dan kami tidak paham materi yang diujikan, dosen kami cuti hamil alhasil kami dibiarkan untuk melahap sendiri Kalkulus Jilid 1 karangan Purcell, oh My God!

siangnya saya harus menemani Wulan turun ke bawah untuk menservis motornya, tapi ternyata tutup, fuh. dan sorenya kami harus berkumpul ke sebuah acara yang diadakan oleh kakak-kakak kami, yaitu acara Gama Satria Banyumas. dan sore itu hujan turut teramat sangat deras. deras sekali! entah apa yang ada dipikiran kami, kami rela hujan-hujanan untuk datang. hemm. saat saya kedinginan, saya terinspirasi untuk menulis post ini. rela berkorban atau rela menyakiti diri sendiri?? *derita orang terlanjur loyal.

kami berdua terlanjur ingin mengenal kakak-kakak kami, saudara seperantauan dari Banyumas yang kuliah di UNNES. kami hujan-hujanan. dan sampai di tempat acara, kami tidak menemukan kakak-kakak yang kami cari! kami bertanya pada orang-orang di semua sudut taman perpustakaan. dan kebanyakan dari mereka hanya sedang berteduh. pengorbanan untuk hujan-hujanan rasanya hampir tiada arti! setelah dihubungi ternyata acaranya dipindah ke depan audit. sesampainya di audit hanya ada tiga orang kakak, wth! berhubung yang dateng sedikit, acara akhirnya diundur, huah. ternyata kami memang benar-benar loyal. jika semua seperti kami pasti acara sore ini tidak perlu ddiundur :P

(di sana! di sana! bingung yang dicari ada di mana)

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer

Insight Buku "Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa"

Ngerasanya males banget baca buku, tapi ternyata setelah direfleksi, justru lebih ke males nulis daripada baca. Kirain udah kelar semua review buku yang kebaca, eh keinget beberapa buku kebeli online. Kali ini buku self-improvement karya Kim Haenam yang kubaca lewat HP, meski ah HP nih selain bikin mata pedes, agak susah juga buat fokus ngebaca tanpa distraksi. Kepikiran beli kindle, tapi kayaknya belum butuh-butuh banget juga. Hmm, okay mari menulis lagi haha. Bismillah dulu.. Mulai dari seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kehilangan orang tersayang. Di sini dijelasin ada empat tahapan masa berduka dari Psikolog John Bowlby, pertama kita akan sangat terhanyut dalam kesedihan, sering mengeluh, dan menyangkal (semisal: kematian seseorang yang kita sayang). Kedua, kita akan merindukan dan mencarinya. Ketiga, kita merasa runtuh dan putus asa, merasa hidup tak berarti, terasingkan dari kehidupan sosial, tidak merasakan perasaan apapun, susah tidur, kehilangan berat badan dan selalu t...

Seperti Payung Ketika Dibutuhkan - Insight Buku "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?"

  Entah buku terjemahan korea yang keberapa, belakangan berasa menarik aja dibaca. Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? ini ditulis sama Kim Sang Hyun, kurang paham juga dia ini siapa wkkw, tapi karena bukunya lumayan sering sliweran jadinya beli deh. Bukunya super duper tipis dan enak banget buat dibaca di perjalanan kayak foto ini, inget banget ngebaca di kereta Kamandaka tahun 2021 dalam rangka dateng ke nikahan temen kosan zaman kuliah. Dan keinget banget juga waktu itu dia nikah sama orang yang pas aku lihat, wah bahagia banget temenku, wah beruntung banget, ah ternyata masih ada laki-laki baik kok di luar sana. Momen yang entah kenapa aku masih inget aja, semoga bahagia sejahtera selamanya wahai kamu. Ah, isi bukunya? Kurang lebih bener-bener lupa, sampai waktu nulis ini (2023) pengen banget ngebaca ulang wahaha. Kayaknya ini tipe buku yang bakal aku simpen buat dibaca sewaktu-waktu. Nyatanya kalo ngomongin kematian nih berat juga, semakin hari semakin d...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...