Langsung ke konten utama

Ayahku

Hari ini aku merindukanmu
Ya, merindukanmu teramat sangat
Wahai ayahku

Ayahku,
Apa kabarmu di syurga?
Kau pasti tersenyum riang di sana

Ayahku,
Kau tak perlu menghawatirkanku
Dia yang kau pilih itu senantiasa di sampingku
Iya ayah, dia itu ibuku, dia malaikatku
Bagaimana kau dapat menemukannya?
Aku ingin seberuntung kau ayah

Terima kasih ayahku
Kau mengajarkan semuanya padaku
Tanpa ku sadari, kau membimbingku menjadi seseorang
Pelan, tapi pasti

Ayahku,
Kau tak perlu mengakhawatirkanku
Aku masih putri kecilmu yang dulu
Yang cengeng tapi kuat
Yang mengeluh tapi mampu

Aku ingat caramu membimbingku
Kau tak pernah memberiku hadiah karena prestasiku
Kau hanya memberiku goresan tanganmu di raporku
Bahkan kau tak mau menandatanganinya jika aku tak peringkat satu

Kau jarang sekali membelikanku buku tulis
Kau jarang sekali membelikanku baju
Kau membelikanku handphone
Tapi tak pernah memberiku pulsa
Kau melatihku untuk memenuhi kebutuhanku sendiri
Aku pikir aku lemah, aku pikir aku manja
Tapi ternyata sejak kecil kau melatihku tentang kemandirian

Kau bilang aku lemah
Kau menyuruhku latihan beladiri
Latihan pertama nyaris membuatku menyerah
Kau bilang, coba lagi
Dan aku bisa!
Tanpa sadar, kau mengajarkanku bertahan dan mampu melindungi diri sendiri

Kau membebaskanku sepenuhnya
Kau tak pernah mengatur waktu belajarku
Kau tak pernah mengatur jam pulang sekolahku
Kau tak pernah melarangku pergi bermain
Kau tak pernah melarangku menari di bawah hujan
Tanpa ku sadari, kau melatihku tentang tanggung jawab

Bahkan ketika putri kecilmu ingin pergi di malam hari
Dengan semangat ngin melihat pujaan hatinya di atas panggung
Kau tetap membiarkanku pergi
Padahal kau tak pernah tau siapa pujaan hati putrimu itu
Apakah dia seseorang yang baik?
Apakah dia seseorang yang mampu manjagaku sebaik kau menjagaku?

Tapi kau selalu melarangku satu hal
Kau melarangku menangis
Kau selalu mengancamku ketika aku menangis
Maaf ayahku, saat itu aku tak tahu
Jika hatimu pun ikut terluka melihatku menangis

Ayahku,
Aku tak akan membuat ibu khawatir tentangku
Jika aku bisa, aku akan selalu menyembunyikan air mata ini
Karena aku tahu, tangisanku akan menyakiti hatinya

Kau membuatku mengenal-Nya
Kau mendidikku bagaimana aku menjalankan kewajibanku sebagai makhluk-Nya
Kau menegurku ketika aku menunda sholatku karena asyik belajar
Belajarku lama tapi sholatku sebentar, aku ingat kata-katamu itu

Ayahku,
Kau mengajarku dengan perlahan, tapi pasti
Kau ingin aku memahami setiap detail dengan baik
Mengerti alur hidup dengan baik
Memahami hikmah di setiap peristiwa

Kau melarangku untuk membuka halaman akhir sebuah buku
Kau melarangku menerjang alur untuk mengerti akhir ceritanya
Kau meyuruhku untuk membaca lembar demi lembar
Saat itu aku tak tahu mengapa kau melarangku
Padahal aku sedang terjebak penasaran
Mungkin kau ingin mengajakanku sebuah proses
Sebuah perjuangan dan menikmati setiap hambatan yang ada
Bukan hasil, tapi prosesnya

Esok itu masih bayangan, ia itu maya
Manfaatkan harimu sebaik-baiknya duhai putriku
Ya, harus menikmati detik demi detik yang tersedia
Bukan untuk meloncat ke bagian akhir

Kau selalu ingin aku menjadi anak yang hebat
Kau selalu ingin aku mampu menjadi yang kau mau
Sekalipun tak pernah kau katakan, aku tahu bahwa
Kau ingin semua orang menghormatiku

Aku janji ayahku,
Akan ku buat mereka yang meremehkanku menghormatiku
Ya, seperti yang kau mau

Terimakasih ayahku,
Kau selalu mengantarku ke sekolah ketika hari hujan
Kau selalu menjemputku ketika aku pulang malam
Kau selalu menemani belajarku hingga tengah malam
Kau selalu meyakinkanku di saat aku ragu
Kau selalu membantuku memilih ketika aku rasa tak mampu memilih
Ku akui, aku kehilanganmu

Aku kuat ayahku,
Putrimu ini hebat
Kau tahu kan?
Jadi kau tak perlu mengkhawatirkanku
Aku baik-baik saja
Terimakasih untuk semua
Sampai jumpa lagi, di syurga nanti


Komentar

Postingan Populer

Insight Buku "Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa"

Ngerasanya males banget baca buku, tapi ternyata setelah direfleksi, justru lebih ke males nulis daripada baca. Kirain udah kelar semua review buku yang kebaca, eh keinget beberapa buku kebeli online. Kali ini buku self-improvement karya Kim Haenam yang kubaca lewat HP, meski ah HP nih selain bikin mata pedes, agak susah juga buat fokus ngebaca tanpa distraksi. Kepikiran beli kindle, tapi kayaknya belum butuh-butuh banget juga. Hmm, okay mari menulis lagi haha. Bismillah dulu.. Mulai dari seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kehilangan orang tersayang. Di sini dijelasin ada empat tahapan masa berduka dari Psikolog John Bowlby, pertama kita akan sangat terhanyut dalam kesedihan, sering mengeluh, dan menyangkal (semisal: kematian seseorang yang kita sayang). Kedua, kita akan merindukan dan mencarinya. Ketiga, kita merasa runtuh dan putus asa, merasa hidup tak berarti, terasingkan dari kehidupan sosial, tidak merasakan perasaan apapun, susah tidur, kehilangan berat badan dan selalu t...

Seperti Payung Ketika Dibutuhkan - Insight Buku "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?"

  Entah buku terjemahan korea yang keberapa, belakangan berasa menarik aja dibaca. Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? ini ditulis sama Kim Sang Hyun, kurang paham juga dia ini siapa wkkw, tapi karena bukunya lumayan sering sliweran jadinya beli deh. Bukunya super duper tipis dan enak banget buat dibaca di perjalanan kayak foto ini, inget banget ngebaca di kereta Kamandaka tahun 2021 dalam rangka dateng ke nikahan temen kosan zaman kuliah. Dan keinget banget juga waktu itu dia nikah sama orang yang pas aku lihat, wah bahagia banget temenku, wah beruntung banget, ah ternyata masih ada laki-laki baik kok di luar sana. Momen yang entah kenapa aku masih inget aja, semoga bahagia sejahtera selamanya wahai kamu. Ah, isi bukunya? Kurang lebih bener-bener lupa, sampai waktu nulis ini (2023) pengen banget ngebaca ulang wahaha. Kayaknya ini tipe buku yang bakal aku simpen buat dibaca sewaktu-waktu. Nyatanya kalo ngomongin kematian nih berat juga, semakin hari semakin d...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...