Hari ini aku merindukanmu
Ya, merindukanmu teramat sangat
Wahai ayahku
Ayahku,
Apa kabarmu di syurga?
Kau pasti tersenyum riang di sana
Ayahku,
Kau tak perlu menghawatirkanku
Dia yang kau pilih itu senantiasa
di sampingku
Iya ayah, dia itu ibuku, dia malaikatku
Bagaimana kau dapat menemukannya?
Aku ingin seberuntung kau ayah
Terima kasih ayahku
Kau mengajarkan semuanya padaku
Tanpa ku sadari, kau membimbingku
menjadi seseorang
Pelan, tapi pasti
Ayahku,
Kau tak perlu mengakhawatirkanku
Aku masih putri kecilmu yang dulu
Yang cengeng tapi kuat
Yang mengeluh tapi mampu
Aku ingat caramu membimbingku
Kau tak pernah memberiku hadiah
karena prestasiku
Kau hanya memberiku goresan
tanganmu di raporku
Bahkan kau tak mau menandatanganinya
jika aku tak peringkat satu
Kau jarang sekali membelikanku
buku tulis
Kau jarang sekali membelikanku
baju
Kau membelikanku handphone
Tapi tak pernah memberiku pulsa
Kau melatihku untuk memenuhi
kebutuhanku sendiri
Aku pikir aku lemah, aku pikir aku
manja
Tapi ternyata sejak kecil kau
melatihku tentang kemandirian
Kau bilang aku lemah
Kau menyuruhku latihan beladiri
Latihan pertama nyaris membuatku menyerah
Kau bilang, coba lagi
Dan aku bisa!
Tanpa sadar, kau mengajarkanku bertahan dan mampu melindungi diri sendiri
Kau bilang aku lemah
Kau menyuruhku latihan beladiri
Latihan pertama nyaris membuatku menyerah
Kau bilang, coba lagi
Dan aku bisa!
Tanpa sadar, kau mengajarkanku bertahan dan mampu melindungi diri sendiri
Kau membebaskanku sepenuhnya
Kau tak pernah mengatur waktu
belajarku
Kau tak pernah mengatur jam pulang
sekolahku
Kau tak pernah melarangku pergi
bermain
Kau tak pernah melarangku menari
di bawah hujan
Tanpa ku sadari, kau melatihku
tentang tanggung jawab
Bahkan ketika putri kecilmu ingin
pergi di malam hari
Dengan semangat ngin melihat
pujaan hatinya di atas panggung
Kau tetap membiarkanku pergi
Padahal kau tak pernah tau siapa
pujaan hati putrimu itu
Apakah dia seseorang yang baik?
Apakah dia seseorang yang mampu
manjagaku sebaik kau menjagaku?
Tapi kau selalu melarangku satu
hal
Kau melarangku menangis
Kau selalu mengancamku ketika aku
menangis
Maaf ayahku, saat itu aku tak tahu
Jika hatimu pun ikut terluka melihatku
menangis
Ayahku,
Aku tak akan membuat ibu khawatir
tentangku
Jika aku bisa, aku akan selalu
menyembunyikan air mata ini
Karena aku tahu, tangisanku akan
menyakiti hatinya
Kau membuatku mengenal-Nya
Kau mendidikku bagaimana aku
menjalankan kewajibanku sebagai makhluk-Nya
Kau menegurku ketika aku menunda
sholatku karena asyik belajar
Belajarku lama tapi sholatku
sebentar, aku ingat kata-katamu itu
Ayahku,
Kau mengajarku dengan perlahan,
tapi pasti
Kau ingin aku memahami setiap
detail dengan baik
Mengerti alur hidup dengan baik
Memahami hikmah di setiap
peristiwa
Kau melarangku untuk membuka
halaman akhir sebuah buku
Kau melarangku menerjang alur
untuk mengerti akhir ceritanya
Kau meyuruhku untuk membaca lembar
demi lembar
Saat itu aku tak tahu mengapa kau
melarangku
Padahal aku sedang terjebak
penasaran
Mungkin kau ingin mengajakanku
sebuah proses
Sebuah perjuangan dan menikmati
setiap hambatan yang ada
Bukan hasil, tapi prosesnya
Esok itu masih bayangan, ia itu
maya
Manfaatkan harimu sebaik-baiknya duhai putriku
Ya, harus menikmati detik demi
detik yang tersedia
Bukan untuk meloncat ke bagian
akhir
Kau selalu ingin aku menjadi anak
yang hebat
Kau selalu ingin aku mampu menjadi
yang kau mau
Sekalipun tak pernah kau katakan,
aku tahu bahwa
Kau ingin semua orang
menghormatiku
Aku janji ayahku,
Akan ku buat mereka yang
meremehkanku menghormatiku
Ya, seperti yang kau mau
Terimakasih ayahku,
Kau selalu mengantarku ke sekolah
ketika hari hujan
Kau selalu menjemputku ketika aku
pulang malam
Kau selalu menemani belajarku
hingga tengah malam
Kau selalu meyakinkanku di saat
aku ragu
Kau selalu membantuku memilih
ketika aku rasa tak mampu memilih
Ku akui, aku kehilanganmu
Aku kuat ayahku,
Putrimu ini hebat
Kau tahu kan?
Jadi kau tak perlu
mengkhawatirkanku
Aku baik-baik saja
Terimakasih untuk semua
Sampai jumpa lagi, di syurga nanti
Komentar
Posting Komentar