Sedih banget mau posting malah
ada tulisan, “you can no longer enjoy
our service temporarily. Please
ensure you have sufficient balance”. Sakiiit mata saya liatnya. Berarti paket
unlimited saya habis --a. Mau isi ulang nanggung banget, bentar lagi pulang
kampung. Uwwooo! Dan akhirnya saya simpan di word dan akan memaksa teman kos
saya Retno untuk meminjamkan modemnya --a *jahat abis
Oke lanjut, kali ini saya akan
berbagi sedikit pengalaman saya, tentang bagaimana "dulu" saya menyikapi sesuatu dan "sekarang". Insya Allah bermanfaat. Jadi kali ini topiknya
adalah, Jangan
pernah membandingkan dirimu dengan orang lain, sekali lagi, jangan pernah! *serius mode on, hihi
Jadi, IP saya sudah keluar teman,
hehe. Alhamdulillah, Dia masih sayang sama saya, thanks Allah.. Jadi buat yang
sudah baca postingan saya tepat satu jam sebelum IP keluar pasti tau betapa
galaunya saya. Apalagi buat yang rajin baca postingan saya, pasti tau banget,
kenapa saya bisa galau gara-gara IP, padahal, IP bukan segalanya. tapi kalo IP jelek,
mau jadi apa? --a
Saya yang terheran-heran melihat
hasil studi saya di semester awal ini akhirnya mengeluarkan air mata
sederas-derasnya karena kebaikan-Nya, lagi dan lagi. Betapa saya merasa tidak pantas mendapatkan yang telah saya dapatkan. Bayangin aja, usaha cuma sedikit, di kos
isinya tidur. Tugas akhir laporan gak pernah digarap. Kalo mau ujian pasti
stress dulu gara-gara belajarnya belum slese, bangun kesiangan, brangkat kuliah
lari-lari, fiuh! Berangkat responsi aja cuma modal nekat dan tentunya Dia, yang
selalu ada di samping saya.
Sujud syukur sambil nangis, malu udah minta banyak tapi usahanya cuma
sedikit. Tapi lagi-lagi Dia begitu baik, benar-benar Maha Kaya, Maha Pemurah,
dan Maha Penyayang. Oke jadi, IP pertama saya ini cumlaude, gak jauh dari 3,50
sih. Alhamdulillah… “bukan bermaksud untuk sombong, tapi itulah kenyataannya”,
mengutip kata Chief of Himabio, Mahbub Masduqi. Masih ngerasa gak pantes, ada
kata-kata ajaib keluar dari sahabat saya, Era Miftakhul Jannah, “mungkin usaha yang sedikit itu yang diridhoi” --a makin meledak aja saya nangisnya, mana tengah
malem, hehe
Oya, back to the topic, lama-lama
jadi out of the topic gini, ehm, sebenernya gak juga sih --a Dulu, mungkin saya bakal iri setengah idup kalo liat orang lain lebih dari saya, tapi sekarang sifat yang satu itu harus dibuang jauh-jauh. hus hus! Dan sekarang ada kesempatan untuk mengecek keberadaan sifat yang satu itu. Sudah pergi atau masih dengan bahagianya mengendap di hati?
Jadi, ada seorang teman saya yang IP nya jauh dari saya, jauh lebih sempurna dari saya, Subhanallah. Apakah kenyataan itu mengurangi rasa syukur saya? Tidak sama sekali wahai kawan. Mungkin beberapa dari kalian akan merasa tertekan karena orang lain lebih dari kalian, jauh lebih dari kalian. Tapi bukankah memang seperti itu? Di atas langit masih ada langit sob..
Jadi, ada seorang teman saya yang IP nya jauh dari saya, jauh lebih sempurna dari saya, Subhanallah. Apakah kenyataan itu mengurangi rasa syukur saya? Tidak sama sekali wahai kawan. Mungkin beberapa dari kalian akan merasa tertekan karena orang lain lebih dari kalian, jauh lebih dari kalian. Tapi bukankah memang seperti itu? Di atas langit masih ada langit sob..
Dan itu tidak pantas untuk digrundeli bahkan untuk ditangisi. Gak etis rasanya kalo sedih
di atas kebahagiaan orang lain, ya gak? Ucapkanlah selamat, mungkin berat, tapi
indah, kau akan dapat merasakan kebahagiannya:D Jadi suatu saat mungkin kau
bangga dengan semua yang kau dapat, bersyukur dengan semua yang telah kau
dapat, tapi setelah kau lihat kesuksesan orang lain, syukur itu meleleh!
Naudzubillah..
Contoh lain nih, kita naksir si doi, eh
si doi ditaksir sama anak yang sedikit lebih cantik, jadi mikir kemana-mana
kan? Dan akhirnya justru bete sendiri. Ngeliat dia yang lebih kaya lantas bikin
kita lupa bersyukur, padahal masih bisa makan, di luar sana masih banyak yang gak
makan sob.. Cukuplah menjadi cambuk untuk terus meningkatkan kualitas diri,
bukan untuk bersedih karena nikmat orang lain.
Kalo terus banding-bandingin diri kita sama orang lain, ah, gak tentrem
nih idup, mana cuma sekali. Jangan dibuat meratapi sesuatu yang sebenarnya tak
perlu diratapi. Sekali lagi, “Jangan pernah bandingkan dirimu dengan orang lain. Cukup
bandingkan dirimu sebelum dan sesudahnya”, mengutip dari kakak
angkatan, Siti Aisyah. apakah sudah
lebih baik? Dan tentunya harus! Karena orang
yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang merugi. Keep
fighting! Semoga bermanfaat. Kita pasti bisa, untuk terus menjadi lebih baik..
Aamiin Ya Rabb….
Komentar
Posting Komentar