Langsung ke konten utama

DIENG : Hot and Cold

Pengen banget berbagi kisah liburan saya di Dieng, tapi baru kali ini saya dapat menulisnya. Akhir-akhir ini saya sibuk dengan kuliah saya. Ehm, gak sibuk sih, cuma saya masih keteteran aja ngatur waktunya. Karena kata teman saya, Faris, sibuk itu hanya milik orang yang tidak mampu mengatur waktunya dengan baik. Saya masih terus belajar dan berusaha untuk memanfaatkan 24 jam saya dengan lebih produktif lagi.

Yes, malah mbleber, mau crita liburan malah bahas tugas kuliah --a. Maaf Maaf. Jadi ceritanya, saat itu saya dari Semarang ingin pulang ke Purwokerto. Saya dan Wulan memutuskan untuk mampir ke Dieng, keputusan yang bagus bukan??? Hehe

Dengan si Jupe, titisan Wulan. Kali ini bukan titisan Susana karena Jupe yang saya maksud adalah si Jupiter Merahnya Wulan yang selalu setia menemani perjalanan kami berdua, hihi. Berbekal sebuah keberanian, tentunya tanpa peta, biasa lah kalo sama saya mah nyasar itu biasaaaa --a

Kami masuk Kota Wonosobo dan wow! Kesimpulan pertama saya adalah bahwa Kota Wonosobo adalah kota yang penuh perboden. Untung saja kami dapat melihat tanda-tanda itu dan lolos dari tuduhan polisi. Setelah masuk kota, tengak-tengok si malaikat ijo yang biasa nolongin kami berdua kalo nyasar dan hasilnya nihil. Lurus teruus selama kami belum melihatnya dan akhirnya ada sebuah papan di sana, warnanya bukan hijau, tetapi memberi secercah senyum di wajah kami, karena papan itu bertuliskan Dieng.

Ini nih hasil ceprat-cepret saya saat perjalanan. Jalan yang berkelok-kelok yang menyediakan pemandangan hijau segar dipandang mata menemani selama perjalanan. Jadi, mas wiki wiki bilang kalo Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Jangan heran kalo masuk objek wisatanya bayar berkali-kali karena daerahnya berbeda. Ketika masuk perbatasan maka harus membayar lagi, hehe
 


Selidik punya selidik, kami nyaris gak percaya karena ternyata Diengnya jauuuh banget, Subhanallah. Tapi dengan semangat 45 akhirnya kami menemukan objek wisata yang pertama yaitu, Telaga Warna.Setelah dari Telaga Warna, kami ke Telaga Pangilon. Letaknya di belakang Telaga Warna, medannya lumayan. Dan tiba-tiba bress, hujan. Kami berdua mengeluarkan mantel. Hanya kami yang masih di Pangilon saat itu, pengunjung lain sudah kembali. Lalu kami keluar dari rerimbunan pohon menggunakan jas hujan, dan kau tau wahai teman? Banyak orang memandangi kami dengan tatapan seribu kalimat tanya sekaligus tak bisa menyembunyikan senyum itu. Ya! Mereka tertawa melihat kami berdua. Dua orang cewek malang yang kehujanan dan dengan pedenya pake jas hujan. Malu deh malu saya -,-



Setelah itu kami sholat, dan kau tau teman? Musholanya teramat sangat menyedihkan. Tak terawat, bocor, dan beginilah suasananya, silahkan disimpulkan sendiri keadaannya:')


Kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kawah. Kawah Sikedang namanya. Masih hujan dan kami pun hujan-hujanan dengan alasan "eman-eman udah nyampe sini". Kami jalan-jalan di tumpukan batu putih itu menuju kawah nun jauh di sana. Baunya, wow! Telur busuk abiis. Airnya mendidih banget, Hot lah pokoknya. Sedangkan kami mutlak kedinginan, so Cold. Dan bibir saya tak berhenti bernyanyi, "Cause you're Hot and you're Cold" Gatau tuh yang saya nyanyiin bener apa gak, yang jelas maksud saya itu lagunya Katty Perry yang Hot and Cold, maka dari itu judul posting ini adalah DIENG: Hot and Cold --a



Pemandangan di sekitar Kawah gak kalah menarik, Subhanallah banget deh. Silahkan buktikan sendiri yaa:) Saya pengen ke Bukit Sikunir, tapi saya gak tau di sebelah mana karena nyaris tiap objek wisata terpisah-pisah tempatnya. Berhubung hari sudah sore dan perjalanan kami untuk kembali ke Kota Purwokerto tercinta masih setengah lagi, kami putuskan untuk kembali. Sebenarnya belum semua objek wisata di Dieng ini kami kunjungi, mungkin lain kali.

Waktu pulang tangan Wulan beku, tapi dia tidak rela menyerahkan motornya ke tangan saya untuk menuruni jalanan yang berliku itu. Setelah sampai Banjarnegara barulah saya menggantikannya. Saya ngebut banget tuh bawanya. Dari Dieng jam tengah tiga, jam lima udah di rumah saya. Dan saat di Sokaraja, Wulan bilang kalo pas bawa motor tadi dia setengah sadar --a

Komentar

Postingan Populer

Insight Buku "Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa"

Ngerasanya males banget baca buku, tapi ternyata setelah direfleksi, justru lebih ke males nulis daripada baca. Kirain udah kelar semua review buku yang kebaca, eh keinget beberapa buku kebeli online. Kali ini buku self-improvement karya Kim Haenam yang kubaca lewat HP, meski ah HP nih selain bikin mata pedes, agak susah juga buat fokus ngebaca tanpa distraksi. Kepikiran beli kindle, tapi kayaknya belum butuh-butuh banget juga. Hmm, okay mari menulis lagi haha. Bismillah dulu.. Mulai dari seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kehilangan orang tersayang. Di sini dijelasin ada empat tahapan masa berduka dari Psikolog John Bowlby, pertama kita akan sangat terhanyut dalam kesedihan, sering mengeluh, dan menyangkal (semisal: kematian seseorang yang kita sayang). Kedua, kita akan merindukan dan mencarinya. Ketiga, kita merasa runtuh dan putus asa, merasa hidup tak berarti, terasingkan dari kehidupan sosial, tidak merasakan perasaan apapun, susah tidur, kehilangan berat badan dan selalu t...

Seperti Payung Ketika Dibutuhkan - Insight Buku "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?"

  Entah buku terjemahan korea yang keberapa, belakangan berasa menarik aja dibaca. Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? ini ditulis sama Kim Sang Hyun, kurang paham juga dia ini siapa wkkw, tapi karena bukunya lumayan sering sliweran jadinya beli deh. Bukunya super duper tipis dan enak banget buat dibaca di perjalanan kayak foto ini, inget banget ngebaca di kereta Kamandaka tahun 2021 dalam rangka dateng ke nikahan temen kosan zaman kuliah. Dan keinget banget juga waktu itu dia nikah sama orang yang pas aku lihat, wah bahagia banget temenku, wah beruntung banget, ah ternyata masih ada laki-laki baik kok di luar sana. Momen yang entah kenapa aku masih inget aja, semoga bahagia sejahtera selamanya wahai kamu. Ah, isi bukunya? Kurang lebih bener-bener lupa, sampai waktu nulis ini (2023) pengen banget ngebaca ulang wahaha. Kayaknya ini tipe buku yang bakal aku simpen buat dibaca sewaktu-waktu. Nyatanya kalo ngomongin kematian nih berat juga, semakin hari semakin d...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...