Ibu, rasanya aku ingin mencium
kakimu, tapi aku malu. Aku bukan anak yang kau didik dengan tradisi semacam itu.
Aku tidak biasa menciummu dan memelukmu meski terkadang aku sangat ingin melakukannya.
Tapi setelah aku merantau aku bisa menciummu setiap aku meninggalkan rumah, itu
sungguh membuatku nyaman. Teringat ketika
kau memberiku nasihat kecil di malam hari sebelum tidur, kau mengajarkanku
untuk sabar menghadapimu jika engkau mulai tua, jika engkau mulai pikun, jika
engkau mulai kembali seperti anak kecil, oh ibu, mendengarnya membuatku ingin
menangis.
Oh ibu, bagiku ibu adalah orang
yang luar biasa kuat. Ingat hari ketika ayah meninggalkan kita ke surga? Kau tampak
begitu tegar, mengapa? Aku pikir itu karena kau melihatku dan adik, kau takut tangismu
terlihat oleh kami, dan kau takut jika kau menangis tangis kamipun akan semakin
menjadi-jadi. Maaf ibu, aku terlalu banyak menyusahkanmu. Kau terlalu
baik. Kau terlalu sering mengalah. Kau terlalu sering mencoba mengerti. Dan
aku? Perempuan berusia 19 tahun tapi seperti anak kecil yang selalu menuntut
dan meminta. Berapa kali kau mengalah? Ketika kau mengajakku berbelanja karena kau
ingin membeli sesuatu, tiba-tiba ada hal yang aku suka, maka ketika itu pula
kau mengurungkan niatmu untuk membeli apa yang kau cari demi membelikan hal
yang aku suka. Oh Ibu, kau ini terlalu baik.
Ibu, sebenarnya aku cemburu,
ketika aku berpamitan saat pergi bermain bersama teman kau tidak menyuruhku
hati-hati, kau justru menginginkan kunci motorku selamat dan menaruhnya dengan
hati-hati. Tapi jika dipikir, semua itu terucap akibat salahku dan teledorku
meninggalkan kunci motor di tempat umum. Kadang pula, kau menyuruhku untuk
hati-hati manaruh dompet dan HP, oh ibu, apa kau lebih khawatir atas barang yang
kubawa daripada aku, anakmu? Tapi ternyata, ketika aku tak kunjung pulang,
ketika aku tak memberimu kabar, kau mencariku, kau menghubungi semua teman
dekatku. Maaf ibu, maaf sudah membuatmu khawatir atau bahkan sangat khawatir.
Belum lagi ketika aku memberimu
kabar bahwa aku sakit. Aku tidak tahu bahwa kau di sana benar-benar
mengkhawatirkanku sampai tak bisa tidur. Maaf ibu, maaf sudah membuatmu
khawatir. Aku akan terus berusaha mengatur pola makan dan istirahatku.
Belum banyak hal yang bisa
kulakukan, kadang melakukan hal dengan sangat baikpun aku tidak bisa. Aku hanya
bisa terus berusaha, semoga aku tak mengecewakanmu. Aku akan selalu memberimu
cerita manis setiap kali aku menghubungimu di telepon. Jika nada bicaraku
sedikit berubah, suara yang terdengar seperti terisak engkaupun langsung
menyadari, dan ya, lagi-lagi aku membuatmu khawatir. Maaf ibu. Ketika aku
pulang, kupastikan ada sesuatu yang kubawa untukmu, entah itu oleh-oleh kecil,
hasil kuliahku, atau sekedar foto dan cerita saat aku menginjakkan kaki di banyak
tempat tanpamu. Terimakasih untuk semuanya. Fiuh, rasanya “terimakasih” itu
sungguh kurang dari cukup. Tidakkah kau tahu bahwa setiap doa darimu sangatlah
manjur? Terima kasih atas perhatianmu, kebaikanmu, dan juga doamu. Akupun akan
senantiasa mendoakanmu di sini dalam setiap sujudku.
Komentar
Posting Komentar