Langsung ke konten utama

Belajar dari SEMES7A - Review Film "Island of Faith"

Beberapa waktu lalu, saya tertuntut untuk melihat lagi ke sekitar, melihat lagi ke lingkungan. Meski basic pendidikan saya ada di Biologi yang amat sangat dekat dengan lingkungan, sebenarnya saya jauh dari kata digugu lan ditiru untuk topik bahasan ini. Jadi, kali ini saya putuskan untuk belajar melalui sebuah film.

Pada awal tahun 2020, sebuah film dokumenter tentang lingkungan hidup ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia. Sayangnya, sepertinya film dokumenter dengan judul SEMES7A ini tidak terlalu mengundang perhatian anak muda.  Begitu pula dengan saya saat itu. Sampai pada akhir tahun 2020, seorang teman menunjukkan ketertarikannya pada film yang diproduseri Nicholas Saputra ini, sehingga saya terbujuk pula untuk menontonnya.

Film yang dikenal dengan Island of Faith ini bercerita tentang tujuh provinsi di Indonesia dengan beragam suku dan agama, namun memiliki budaya atau adat yang sama-sama mencerminkan perjuangan dalam menjaga lingkungan hidup serta memerangi perubahan iklim. Ketujuh provinsi itu ialah Bali, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Aceh, Yogyakarta, dan Jakarta.

Provinsi yang diceritakan pertama adalah Bali. Bali dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu selalu mengadakan perayaan hari raya yaitu Nyepi setahun sekali. Saat Hari Raya Nyepi semua aktivitas penduduk dihentikan, tidak ada aktivitas di luar rumah, bahkan listrikpun dimatikan. Berkat Hari Raya Nyepi, alam mampu mengistirahatkan dirinya sejenak. Dinyatakan pula bahwa pada saat Nyepi, pengeluaran gas emisi di Bali menjadi jauh berkurang.

Cerita ke-dua berasal dari Dusun Sungai Utik, Kalimantan Barat. Dusun ini dengan disiplin memisahkan daerah hutan menjadi beberapa bagian, salah satunya adalah hutan keramat atau hutan lindung. Hutan lindung berfokus menjaga kealamian hutan, sehingga bahan kebutuhan sehari-hari maupun kayu-kayu bahan produksi tidak diambil dari wilayah ini. Dusun Sungai Utik mengajarkan kita untuk tidak serakah meski sumber daya (hutan) berlimpah di depan mata.

Selanjutnya Manggarai Nusa Tenggara Timur, merupakan daerah yang bersahabat dengan air. Mereka benar-benar bersatu hati dalam menjaga sumber mata air karena dengan air pula mereka dapat menghasilkan energi listik melalui PLTA. Bahkan dari pelosok negeri, lagi-lagi kita belajar ramah terhadap lingkungan.

Cerita ke-empat, di Papua Barat tepatnya Kapatchol, seorang perempuan membantu menyeimbangkan alam dengan melalukukan “sasi”. Sasi merupakan tradisi kearifan lokal dimana saat datang masa sasi seluruh nelayan dilarang mengambil dan mengeskploitasi sumber daya laut selama enam bulan. Saat masa sasi ini dibuka, seluruh warga dapat mengambil sumber daya atau melakukan panen. Dari wilayah ini, kita dapat belajar bahwa masyarakat adatpun tau tentang pemulihan sumber daya alam, tanpa eksploitasi besar-besaran, bahkan memberi waktu istirahat pada alam untuk melalukan regenerasi.

Dilanjutkan dengan Aceh, dimana terdapat gajah yang habitatnya dirusak oleh manusia sehingga berdampak pada masuknya gajah ke lahan perkebunan warga. Yusuf sebagai imam Desa Pameu mengajak warga berefleksi bahwa jika kita baik pada alam, maka alampun akan baik kepada kita. Jika kita tidak menganggu habitat gajah, maka gajah juga tidak akan mengganggu tempat tinggal kita.

Kisah ke-lima ada di Pulau Jawa tepatnya Yogyakarta, dimana seorang warga memilih untuk tinggal di lahan kering dengan berbagai keterbatasan, kemudian berusaha membuat lahan tersebut bermanfaat dengan nama Bumi Langit. Bumi Langit menerapkan konsep zero waste, dimana semua hasil buangan tidak berhenti menjadi sampah, tetapi dapat digunakan kembali.

Terakhir ialah kisah petani urban di Jakarta, seorang perempuan pendiri Kebun Kumara yang memilki misi sama dengan suaminya, menyadarkan kita bahwa gerakan mencintai lingkungan dapat dilakukan di perkotaan. Mereka berdua benar-benar menjadikan sudut kota Jakarta dapat digunakan sebagai lahan bertani dan belajar.

Begitu banyak keindahan di bumi ini, di Indonesia ini, terlepas dari apa yang kita percayai, semua agama mengajarkan manusia untuk merawat bumi ini dengan baik. Film ini benar-benar membuat hati bertanya-tanya, “Apa hal baik yang sudah kamu lakukan pada bumi ini wahai diri?”

Komentar

Postingan Populer

Insight Buku "Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa"

Ngerasanya males banget baca buku, tapi ternyata setelah direfleksi, justru lebih ke males nulis daripada baca. Kirain udah kelar semua review buku yang kebaca, eh keinget beberapa buku kebeli online. Kali ini buku self-improvement karya Kim Haenam yang kubaca lewat HP, meski ah HP nih selain bikin mata pedes, agak susah juga buat fokus ngebaca tanpa distraksi. Kepikiran beli kindle, tapi kayaknya belum butuh-butuh banget juga. Hmm, okay mari menulis lagi haha. Bismillah dulu.. Mulai dari seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kehilangan orang tersayang. Di sini dijelasin ada empat tahapan masa berduka dari Psikolog John Bowlby, pertama kita akan sangat terhanyut dalam kesedihan, sering mengeluh, dan menyangkal (semisal: kematian seseorang yang kita sayang). Kedua, kita akan merindukan dan mencarinya. Ketiga, kita merasa runtuh dan putus asa, merasa hidup tak berarti, terasingkan dari kehidupan sosial, tidak merasakan perasaan apapun, susah tidur, kehilangan berat badan dan selalu t...

Seperti Payung Ketika Dibutuhkan - Insight Buku "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?"

  Entah buku terjemahan korea yang keberapa, belakangan berasa menarik aja dibaca. Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? ini ditulis sama Kim Sang Hyun, kurang paham juga dia ini siapa wkkw, tapi karena bukunya lumayan sering sliweran jadinya beli deh. Bukunya super duper tipis dan enak banget buat dibaca di perjalanan kayak foto ini, inget banget ngebaca di kereta Kamandaka tahun 2021 dalam rangka dateng ke nikahan temen kosan zaman kuliah. Dan keinget banget juga waktu itu dia nikah sama orang yang pas aku lihat, wah bahagia banget temenku, wah beruntung banget, ah ternyata masih ada laki-laki baik kok di luar sana. Momen yang entah kenapa aku masih inget aja, semoga bahagia sejahtera selamanya wahai kamu. Ah, isi bukunya? Kurang lebih bener-bener lupa, sampai waktu nulis ini (2023) pengen banget ngebaca ulang wahaha. Kayaknya ini tipe buku yang bakal aku simpen buat dibaca sewaktu-waktu. Nyatanya kalo ngomongin kematian nih berat juga, semakin hari semakin d...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...