Langsung ke konten utama

Tidakkah Kita Pernah Berterima Kasih pada Tanah? - Review Film "Kiss the Ground"

Di tengah begitu banyak isu COVID-19, aku dan banyak orang lain mungkin sama lupanya dengan permasalahan lingkungan yang sejak dulu sampai sekarang masih berjalan. Sebenarnya, dengan kondisi dimana semua lahan persawahan di sekitar pelan-pelan menjadi perumahan, sampah yang sudah mati-matian dipisahkan antara organik dan anorganik nyatanya sama-sama berujung di tempat pembuangan akhir, kesejahteraan manusia yang diiringi dengan meningkatnya sisa gas buangan, energi terbarukan yang ‘pernah jadi topik utama’ pembicaraan, berakhir pada muara bahwa bumi ini menua, perubahan iklim terus terjadi, dan kita sebagai manusia dengan fitrah kemampuan berpikirnya masih juga belum melakukan apa-apa. Perubahan-perubahan signifikan haruskan terjadi pada level kekuasaan yang tinggi?

Setelah SEMES7A, aku mencoba berkaca dari film dokumenter lain berjudul Kiss the Ground yang ditayangkan Netflix. Film ini menunjukkan bahwa jawaban atas segala pertanyaan tentang perubahan iklim ada di tanah yang setiap hari kita pijak. Penemuan traktor dan penggunaan pestisida pada akhirnya menyebabkan tanah mengalami erosi, kehilangan kemampuan mempertahankan air maupun menyimpan karbon.

Film ini bercerita tentang regenerasi tanah dengan cara menanam tanpa menggunakan peralatan yang mengikis tanah maupun menggunakan pestisida, bertenak sekaligus bertani sehingga rantai makanan dalam ekosistem berjalan dengan alami, vegetarian yang sangat memperhatikan konsumsi makanan dalam tubuh, bahkan pemanfaatan kotoran manusia sebagai bahan utama produksi pupuk terbaik.

Setelah menonton film ini, kita diajak untuk tidak menyerah bahwa harapan akan bumi yang seindah taman surga dapat kita nikmati jika terus berusaha bersama, memberi peran dalam meregenerasi bumi ini. Film ini memberi pesan, “Jika kita menyelamatkan tanah, tanah juga akan menyelamatkan kita.”

And last but not least, dalam satu dekade terakhir, adakah waktu syukur kita terhadap tanah yang setiap hari kita pijak?

Komentar

Postingan Populer

Insight Buku "Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa"

Ngerasanya males banget baca buku, tapi ternyata setelah direfleksi, justru lebih ke males nulis daripada baca. Kirain udah kelar semua review buku yang kebaca, eh keinget beberapa buku kebeli online. Kali ini buku self-improvement karya Kim Haenam yang kubaca lewat HP, meski ah HP nih selain bikin mata pedes, agak susah juga buat fokus ngebaca tanpa distraksi. Kepikiran beli kindle, tapi kayaknya belum butuh-butuh banget juga. Hmm, okay mari menulis lagi haha. Bismillah dulu.. Mulai dari seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kehilangan orang tersayang. Di sini dijelasin ada empat tahapan masa berduka dari Psikolog John Bowlby, pertama kita akan sangat terhanyut dalam kesedihan, sering mengeluh, dan menyangkal (semisal: kematian seseorang yang kita sayang). Kedua, kita akan merindukan dan mencarinya. Ketiga, kita merasa runtuh dan putus asa, merasa hidup tak berarti, terasingkan dari kehidupan sosial, tidak merasakan perasaan apapun, susah tidur, kehilangan berat badan dan selalu t...

Seperti Payung Ketika Dibutuhkan - Insight Buku "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?"

  Entah buku terjemahan korea yang keberapa, belakangan berasa menarik aja dibaca. Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? ini ditulis sama Kim Sang Hyun, kurang paham juga dia ini siapa wkkw, tapi karena bukunya lumayan sering sliweran jadinya beli deh. Bukunya super duper tipis dan enak banget buat dibaca di perjalanan kayak foto ini, inget banget ngebaca di kereta Kamandaka tahun 2021 dalam rangka dateng ke nikahan temen kosan zaman kuliah. Dan keinget banget juga waktu itu dia nikah sama orang yang pas aku lihat, wah bahagia banget temenku, wah beruntung banget, ah ternyata masih ada laki-laki baik kok di luar sana. Momen yang entah kenapa aku masih inget aja, semoga bahagia sejahtera selamanya wahai kamu. Ah, isi bukunya? Kurang lebih bener-bener lupa, sampai waktu nulis ini (2023) pengen banget ngebaca ulang wahaha. Kayaknya ini tipe buku yang bakal aku simpen buat dibaca sewaktu-waktu. Nyatanya kalo ngomongin kematian nih berat juga, semakin hari semakin d...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...