Langsung ke konten utama

Yakin Penting? - Review Film "Minimalism"

Berkaca pada kehidupan pribadi, semakin besar pendapatan tampaknya semakin konsumtiflah diri ini. What a sad fact! Kemudahan berbelanja melalui online dan transfer tanpa perlu bepergianpun semakin memanjakan. Minimalis, sepertinya cukup sering digaungkan akhir-akhir ini, atau karena orang yang saya ikuti dan saya ajak bicara sedang sama-sama mencoba belajar konsep minimalis. Mungkin minimalis ini sudah ada sejak nasihat orang tua, "Kalau lemari pakaian tidak lagi mampu menampung semua pakaianmu, bukan lemarinya yang kurang besar, tapi pakaianmu yang kebanyakan." Familierkah dengan kalimat ini?

Lagi-lagi film adalah tempat pelarian teringan saya untuk belajar. Film yang saya tonton kali ini adalah film dokumenter perjalanan tur buku Joshua dan Ryan yang bercerita tentang pengalaman hidup minimalis. Minimalis, sebenarnya bukan sekadar berfokus pada memiliki sedikit barang, tetapi fokus pada memberi lebih banyak ruang, waktu, kreativitas, kebebebasan, bahkan kebahagiaan. Jika kita merasa terlalu lelah, terlalu sibuk, konsep minimalis seperti memberi janji dampak kehidupan yang lebih baik. Nyatanya saat kita terobsesi pada suatu benda, beberapa saat setelah kita memilikinya, rasa ketidakpuasan dan kekecewaan dapat hadir  saat versi terbaru benda tersebut keluar. Minimalis benar-benar berfokus pada nilai, seberapa penting hal tesebut untuk kita, dengan jumlah yang tepat sesuai porsinya.

Film Minimalism: A Documentary About the Important Things cukup bagus untuk mengetahui dasar konsep minimalis, dan sepertinya menarik (juga bisa) dijadikan resolusi tahun 2021. Mungkin dapat kita mulai dengan membersihkan hal-hal yang tidak dibutuhkan?

Komentar

Postingan Populer

Insight Buku "Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa"

Ngerasanya males banget baca buku, tapi ternyata setelah direfleksi, justru lebih ke males nulis daripada baca. Kirain udah kelar semua review buku yang kebaca, eh keinget beberapa buku kebeli online. Kali ini buku self-improvement karya Kim Haenam yang kubaca lewat HP, meski ah HP nih selain bikin mata pedes, agak susah juga buat fokus ngebaca tanpa distraksi. Kepikiran beli kindle, tapi kayaknya belum butuh-butuh banget juga. Hmm, okay mari menulis lagi haha. Bismillah dulu.. Mulai dari seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kehilangan orang tersayang. Di sini dijelasin ada empat tahapan masa berduka dari Psikolog John Bowlby, pertama kita akan sangat terhanyut dalam kesedihan, sering mengeluh, dan menyangkal (semisal: kematian seseorang yang kita sayang). Kedua, kita akan merindukan dan mencarinya. Ketiga, kita merasa runtuh dan putus asa, merasa hidup tak berarti, terasingkan dari kehidupan sosial, tidak merasakan perasaan apapun, susah tidur, kehilangan berat badan dan selalu t...

Seperti Payung Ketika Dibutuhkan - Insight Buku "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?"

  Entah buku terjemahan korea yang keberapa, belakangan berasa menarik aja dibaca. Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? ini ditulis sama Kim Sang Hyun, kurang paham juga dia ini siapa wkkw, tapi karena bukunya lumayan sering sliweran jadinya beli deh. Bukunya super duper tipis dan enak banget buat dibaca di perjalanan kayak foto ini, inget banget ngebaca di kereta Kamandaka tahun 2021 dalam rangka dateng ke nikahan temen kosan zaman kuliah. Dan keinget banget juga waktu itu dia nikah sama orang yang pas aku lihat, wah bahagia banget temenku, wah beruntung banget, ah ternyata masih ada laki-laki baik kok di luar sana. Momen yang entah kenapa aku masih inget aja, semoga bahagia sejahtera selamanya wahai kamu. Ah, isi bukunya? Kurang lebih bener-bener lupa, sampai waktu nulis ini (2023) pengen banget ngebaca ulang wahaha. Kayaknya ini tipe buku yang bakal aku simpen buat dibaca sewaktu-waktu. Nyatanya kalo ngomongin kematian nih berat juga, semakin hari semakin d...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...