Berkaca pada
kehidupan pribadi, semakin besar pendapatan tampaknya semakin konsumtiflah diri
ini. What a sad fact! Kemudahan berbelanja melalui online dan
transfer tanpa perlu bepergianpun semakin memanjakan. Minimalis, sepertinya cukup
sering digaungkan akhir-akhir ini, atau karena orang yang saya ikuti dan saya
ajak bicara sedang sama-sama mencoba belajar konsep minimalis. Mungkin
minimalis ini sudah ada sejak nasihat orang tua, "Kalau lemari pakaian tidak
lagi mampu menampung semua pakaianmu, bukan lemarinya yang kurang besar, tapi pakaianmu
yang kebanyakan." Familierkah dengan kalimat ini?
Lagi-lagi film
adalah tempat pelarian teringan saya untuk belajar. Film yang saya tonton kali
ini adalah film dokumenter perjalanan tur buku Joshua dan Ryan yang bercerita
tentang pengalaman hidup minimalis. Minimalis, sebenarnya bukan sekadar berfokus
pada memiliki sedikit barang, tetapi fokus pada memberi lebih banyak ruang,
waktu, kreativitas, kebebebasan, bahkan kebahagiaan. Jika kita merasa terlalu
lelah, terlalu sibuk, konsep minimalis seperti memberi janji dampak kehidupan
yang lebih baik. Nyatanya saat kita terobsesi pada suatu benda, beberapa saat
setelah kita memilikinya, rasa ketidakpuasan dan kekecewaan dapat hadir saat versi terbaru benda tersebut keluar. Minimalis
benar-benar berfokus pada nilai, seberapa penting hal tesebut untuk kita,
dengan jumlah yang tepat sesuai porsinya.
Film Minimalism: A Documentary About the Important Things cukup
bagus untuk mengetahui dasar konsep minimalis, dan sepertinya menarik (juga
bisa) dijadikan resolusi tahun 2021. Mungkin dapat kita mulai dengan membersihkan
hal-hal yang tidak dibutuhkan?

Komentar
Posting Komentar