Siapa sangka buku pertama yang kubaca di awal tahun 2021 adalah buku (hampir) 5 tahun lalu, Garis Waktu karya Fiersa Besari. Bukan karena sedang susah payah menyembuhkan luka, tetapi karena sepertinya buku yang kupinjam dari seorang teman sekitar (mungkin) 2 atau 3 tahun lalu harus segera kukembalikan, hehehe. Garis Waktu sebenarnya bercerita tentang perjalanan menyembuhkan luka. Buku ini akan sangat cocok dibaca mereka yang sedang patah dan butuh kembali bangkit berdiri, sedangkan perasaanku saat membacanya sungguh dalam keadaan baik-baik saja.
Otak sedang
tidak berperang dengan hati. Hatipun sedang tidak berusaha membenarkan
asumsi-asumsi manis yang bertebaran di kepala. Singkatnya, aku sedang dalam
kondisi sewaras-warasnya. Seperti pembukaan tulisan di buku ini, “Hidupku
selama ini sudah teramat tenang, dan aku tidak ingin secuil adegan perkenalan
denganmu menjadi efek kupu-kupu yang merusak banyak rencanaku di masa depan. Percayalah,
aku sudah pernah bergumul dengan asmara, dan patah hati yang ditimbulkannya
tidak berdampak baik. Aku tidak membutuhkan drama untuk saat ini.” Exactly!
Hahaha.
Dunia memang
sedang berputar di sekitarku saja, tanpa melibatkan manusia lain yang (mungkin)
dapat memutarbalikkan rotasinya. Aneh rasanya membaca tulisan indah nan puitis
ketika hati tidak sedang dipenuhi kupu-kupu maupun luka-luka, sedang buku ini sepenuhnya berisi perjalanan tokoh “aku” sejak jatuh cinta hingga rela mengikhlaskan. Jika
kubaca saat sedang jatuh cinta, mungkin setiap kata buku ini membuatku mengingat
seseorang dengan segala keindahannya. Pun jika kubaca saat sedang terluka,
mungkin setiap kata buku ini membuatku buru-buru menyeka air mata.
Sebenarnya jika
diperhatikan, buku ini menyampaikan pesan-pesan yang lebih universal. Terdapat
bagian yang mengingatkan sebuah akhir dari kita, dari hidup. Apakah selama ini
kita sudah menjalani hidup dengan baik? Kita hanya hidup satu kali, menjadi
anak kecil satu kali, menjadi dewasa satu kali, dan meninggal satu kali. Apakah
kita sudah menghargai hidup yang hanya satu kali ini? “Di hidup kita yang cuma
satu kali ini, apa perlu membuang waktu dengan mengurusi yang tidak perlu,
menghakimi yang kita tidak tahu, dan memusuhi hal yang tidak kita mengerti?”. Dan tentu saja, hidup kita mempunyai tujuan yang lebih besar (yang harus kita
cari), bukan sekadar terjebak dalam rutinitas semu ataupun sibuk menangisi
kepergian seorang tokoh "kamu".
“Pada sebuah
garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan
pegangan. Yang paling menggiurkan setelahnya adalah berbaring, menikmati
kepedihan, dan membiarkan garis waktu menyeretmu yang niat tak niat menjalani
hidup. Lantas, mau sampai kapan? Sampai segalanya terlambat untuk dibenahi?
Sampai cahayamu benar-benar padam? Sadarkah bahwa Tuhan mengujimu karena dia
percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga? Bangkit. Hidup takkan menunggu.”

Komentar
Posting Komentar