Buku ke-2 yang
berhasil kubaca di bulan Januari adalah Talijiwo karya Sujiwo Tejo. Buku yang
aku lupa entah kapan dan entah dengan motivasi apa kubeli, akhirnya selesai juga!
Buku ini berlatar belakang kehidupan sehari-hari dengan tokoh utama bernama Sastro
dan Jendro. Menurutku, Talijiwo sedikit banyak membahas politik negeri ini, hal-hal
yang aneh tetapi dianggap normal ketika dihadapkan dengan kepentingan penguasa,
seperti sindiran halus yang membuat kita “melek”. Tanpa pengetahuan politik
yang luas, buku ini cukup membuatku manggut-manggut bahkan tertawa. Selain itu,
buku ini juga berisi #Talijiwo atau pesan-pesan khas Sujiwo Tejo, puitis
sekaligus bermakna. Buku dengan label inspiratif di bagian pojok kanan belakang
ini diawali dengan kalimat,
“Sudah berapa lama kau terjebak dengan beragam kesibukan yang tak habis itu? Berhenti berbusa-busa tentang kemerdekaan bila ternyata kau sendiri tak punya waktu luang. Padahal hanya dengan waktu luang manusia bisa berpikir dan merenung tentang bagaimana seyogianya mengisi kemerdekaan hidup. Maka, waktu luang itu jangan dimampatkan lagi dengan melulu main gadget. Berbincanglah bersamaku.”
Buku Talijiwo memiliki
5 sub judul, yang masing-masing dipecah lagi menjadi cerita-cerita pendek
sehingga membuatku tidak bosan, bahkan berhasil selesai dalam hitungan hari.
Ajaib bukan? Mengingat buku ini entah kapan kubeli dan berapa lama terjerembab
di almari buku. Meski Sujiwo Tejo lebih ajaib lagi, sepertinya beliau
benar-benar menulis ini dengan berbagai pengalaman serta penalaran. Beliau
menyederhanakan pesan-pesan kehidupan menjadi lebih mudah dicerna melalui
cerita-cerita pendek dalam Talijiwo. Pada dasarnya, semua cerita kehidupan bermakna
jika kita peka. Dan manusia-manusia yang tidak peka sepertiku menjadi
terbantukan ketika membaca buku ini, haha! Ada dua kalimat yang kuberi tanda pada
buku ini,
“Gagal adalah cara manusia menamai hasil yang sesuai kehendak-Nya, tetapi tak sesuai kehendaknya, Kekasih ….”
“Banyak orang pontang-panting mencari duit tanpa tahu alamat duit. Alamat duit adalah Tuhan, Kekasih. Jalan ke sananya cinta. Kendaraannya jiwa pasrah ….”

Komentar
Posting Komentar