Langsung ke konten utama

Mandiri - Insight Buku "Berani Bahagia"

Buku yang agak ekstrim untuk dibaca karena judulnya seolah-olah bikin kita berpikir bahwa kita belum bahagia selama ini. Buku ini termasuk sekuel buku "Berani Tidak Disukai" yang amat best seller, tapi malah nemunya buku ini dulu hehe. Berjudul "Berani Bahagia" dengan 310 halaman akhirnya selesai kubaca di sepanjang jalanan rel kereta Jogja-Purwokerto. Kupikir konsep buku ini seperti buku pengembangan diri lainnya, tapi ternyata buku ini berisi obrolan antara seorang filsuf dengan seorang pemuda. Kebetulan pemuda ini berprofesi sebagai guru, jadi lumayan terkaget-kaget sih karena cukup relate dengan kehidupan sehari-hari.

"Kau tidak hidup untuk memuaskan ekspektasi orang lain". Terlebih lagi "Orang lain tidak hidup untu memenuhi ekspektasimu. Jangan takut kalau orang lain melihatmu, jangan memperhatikan penilaian orang lain dan jangan mencari pengakuan orang lain. Pilih saja jalan yang terbaik dan yang kau percayai. Selain itu, kau tidak boleh mengintervensi tugas-tugas orang lain, dan tidak boleh membiarkan orang lain mengintervensi tugas-tugasmu pula. Ini adalah konsep teori psikologi Adler.

Lagi-lagi buku pengembangan diri pasti berkata bahwa jika kita terus menerus mengkhawatirkan penilaian orang lain, kita gak bisa deh menjalani hidup kita sendiri, gampangnya kita jadi gak bebas lagi. Dan setiap baca kalimat semacam ini, kepala auto manggut-manggut setuju. Gak boleh tuh ngebiarin orang lain yang menentukan nilai diri kita, kita harusnya berdikari, dapat menentukan nilai diri kita sendiri.

Seorang guru harus dapat membuat muridnya mandiri, tidak bergantung, tidak berusaha menyenangkan orang lain, tidak membiarkan orang lain menentukan nilai dirinya. Kemandirian juga berarti lepas dari sikap mementingkan diri sendiri. Caranya? Mulailah dengan rasa hormat. Rasa hormat adalah kemampuan memandang seseorang apa adanya dan menempatkan nilai pada diri orang itu sebagaima adanya dirinya.

Ada bagian yang cukup menohok diri, ah jangan-jangan bener bahwa aku belum menyukai diriku sendiri. Jadi aku gak bisa percaya orang lain, gak bisa percaya sama murid, dan sedang berusaha kerasa membuktikan nilai diri dengan menjadi sukses dalam pekerjaan. Jedar! Berasa harus mulai berbenah diri, berani bahagia berarti juga berani mencintai.

Mencintai adalah tugasmu. Tapi bagaimana orang merespons cintamu? Itu tugas orang lain dan bukan sesuatu yang bisa kau kendalikan. Yang bisa kaulakukan adalah berbagi tugas, dan mencintai terlebih dahulu, dari dirimu sendiri, itu saja.


Komentar

Postingan Populer

Insight Buku "Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa"

Ngerasanya males banget baca buku, tapi ternyata setelah direfleksi, justru lebih ke males nulis daripada baca. Kirain udah kelar semua review buku yang kebaca, eh keinget beberapa buku kebeli online. Kali ini buku self-improvement karya Kim Haenam yang kubaca lewat HP, meski ah HP nih selain bikin mata pedes, agak susah juga buat fokus ngebaca tanpa distraksi. Kepikiran beli kindle, tapi kayaknya belum butuh-butuh banget juga. Hmm, okay mari menulis lagi haha. Bismillah dulu.. Mulai dari seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kehilangan orang tersayang. Di sini dijelasin ada empat tahapan masa berduka dari Psikolog John Bowlby, pertama kita akan sangat terhanyut dalam kesedihan, sering mengeluh, dan menyangkal (semisal: kematian seseorang yang kita sayang). Kedua, kita akan merindukan dan mencarinya. Ketiga, kita merasa runtuh dan putus asa, merasa hidup tak berarti, terasingkan dari kehidupan sosial, tidak merasakan perasaan apapun, susah tidur, kehilangan berat badan dan selalu t...

Seperti Payung Ketika Dibutuhkan - Insight Buku "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?"

  Entah buku terjemahan korea yang keberapa, belakangan berasa menarik aja dibaca. Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? ini ditulis sama Kim Sang Hyun, kurang paham juga dia ini siapa wkkw, tapi karena bukunya lumayan sering sliweran jadinya beli deh. Bukunya super duper tipis dan enak banget buat dibaca di perjalanan kayak foto ini, inget banget ngebaca di kereta Kamandaka tahun 2021 dalam rangka dateng ke nikahan temen kosan zaman kuliah. Dan keinget banget juga waktu itu dia nikah sama orang yang pas aku lihat, wah bahagia banget temenku, wah beruntung banget, ah ternyata masih ada laki-laki baik kok di luar sana. Momen yang entah kenapa aku masih inget aja, semoga bahagia sejahtera selamanya wahai kamu. Ah, isi bukunya? Kurang lebih bener-bener lupa, sampai waktu nulis ini (2023) pengen banget ngebaca ulang wahaha. Kayaknya ini tipe buku yang bakal aku simpen buat dibaca sewaktu-waktu. Nyatanya kalo ngomongin kematian nih berat juga, semakin hari semakin d...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...