Langsung ke konten utama

Lakukan Tugasmu - Insight Buku "Berani Tidak Disukai"

Entah buku ke berapa yang aku baca tahun ini, judulnya Berani Tidak Disukai. Setelah tahun kemarin baca Berani Bahagia, akhirnya baca sekuel pertama yang lebih hits. Keknya biasanya orang-orang baca buku ini dulu baru baca yang berani bahagia. Buku karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga ini ditulis pake konsep percakapan antara filsuf dengan seorang pemuda. Mari kita tulis beberapa insightnya di sini.

Insight pertama, hidup kita bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain, tapi sesuatu yang kita pilih sendiri, dan kitalah yang bisa memutuskan bagaimana cara kita menjalani hidup. Tak peduli apapun yang telah terjadi dalam hidup kita sampai ke titik ini, seharusnya tidak ada hubungannya dengan cara kita hidup mulai saat ini. Bahwa kita, yang hidup di sini pada saat ini, menentukan kehidupan kita sendiri. Yang bisa kita lakukan sehubungan dengan hidup kita sendiri adalah memilih jalan terbaik yang kita yakini.

Ukuran yang dikenakan orang lain pada pilihan tersebut, itu tugas mereka, bukan hal yang dapat kita ubah. Tidak ingin dibenci adalah tugas kita, tapi orang lain menyukai kita atau tidak bukanlah tugas kita. Sekalipun ada orang yang tidak berpikir baik tentang kita, kita tidak bisa mengintervensinya. Jadi buku ini ngejelasin banget tentang pembagian tugas, mana yang tugas kita dan mana yang bukan. Kita harus memastikan hal-hal apa yang bisa kita ubah, dan hal-hal apa yang tidak bisa kita ubah. Sama dengan kalimat yang dituliskan Kurt Vonnegut, "Tuhan, berilah aku kedamaian untuk dapat menerima hal-hal yang tidak bisa kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa kuubah, dan hikmat untuk selalu bisa mengenali perbedaanya."

Jadi sebenernya buku ini agak mirip buku bersikap bodo amat sih, berani tidak disukai ya yakin sama perbedaan tugas antara tugas diri sendiri dan tugas orang lain, jadi lebih bijak dan gak responsif sama reaksi orang. Tugas kita ya tugas kita, kalo orang lain beda penerimaan ya itu kan aslinya tugas mereka dalam merespon, bukan tugasmu. Perlu diinget juga engkau tidak hidup untuk memuaskan ekspektasi orang lain, begitu juga orang lain tidak hidup untuk memuaskan ekspektasimu. Dari 10 orang, akan ada satu orang yang akan mengkritikmu, tak peduli apapun yang kau lakukan. Orang ini akan membencimu, dan kau juga tidak akan belajar menyukainya. Lalu akan ada dua orang lain yang menerima segala hal tentang dirimu dan kau juga akan menerima segala hal tentang mereka, serta menjadi teman dekat mereka. Tujuh orang lainnya adalah orang-orang yang bukan terdiri dari kedua tipe tersebut. Tinggal fokusmu kemana?

Insight selanjutnya, kalau seseorang benar-benar yakin pada dirinya sendiri, dia tidak merasa perlu berbangga. Seseorang yang berbangga diri, itu berarti dia memiliki perasaan inferior yang sangat kuat. Kita harus menerima diri sendiri apa adanya dan memiliki keyakinan pada orang lain tanpa merasa takut dimanfaatkan. Jika kita dapat menaruh keyakinan tanpa syarat pada orang lain, dan merasa bahwa mereka adalah kawan seperjuangan, kita bisa terlibat dalam berkontribusi bagi orang lain. Selain itu, karena kontribusi terhadap orang lain itulah kita bisa memiliki kesadaran mendalam bahwa kita berguna bagi orang lain dan menerima diri apa adanya. Orang kaya bekerja agar bisa berkontribusi untuk orang lain, mengonfirmasi rasa memiliki, dan perasaan nyaman. Kalau seseorang benar-benar memiliki perasaan telah berkontribusi, dia tidak lagi memerlukan pengakuan dari orang lain. Karena dia sudah memiliki kesadaran yang sesungguhnya bahwa aku berguna bagi orang lain, tanpa perlu mengeluarkan upaya lebih untuk bisa diakui orang lain. Dengan kata lain, seseorang yang terobsesi dengan hasrat untuk diakui belum memiliki perasaan sosial.

Insight ke tiga, hal terpenting bukanlah menilai orang lain. Penilaian adalah kata yang berasal dari hubungan vertikal. Jika seseorang sedang membangun hubungan horizontal, akan ada kata-kata terima kasih, rasa hormat, dan sukacita yang lebih terus terang. Kita perlu melihat orang lain bukan pada level tindakannya, tapi pada keberadaannya. Tanpa menilai apakah orang lain sudah melakukan sesuatu atau tidak. Cukup bersyukur karena mereka ada, karena keberadaan itu sendiri, dan mengarahkan perhatian pada hal itu dengan penuh rasa syukur. Hubungan yang dangkal dan hancur berantakan, maka rasa sakitnya tak seberapa, sukacitanya juga tidak seberapa. Justru karena seseorang bisa memperoleh keberanian memasuki hubungan yang lebih mendalam dengan memiliki keyakinan pada orang lain, itulah kegembiraan dalam hubungan interpersonal seseorang bisa berkembang, begitupula kegembiraan hidup.

Komentar

Postingan Populer

Insight Buku "Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa"

Ngerasanya males banget baca buku, tapi ternyata setelah direfleksi, justru lebih ke males nulis daripada baca. Kirain udah kelar semua review buku yang kebaca, eh keinget beberapa buku kebeli online. Kali ini buku self-improvement karya Kim Haenam yang kubaca lewat HP, meski ah HP nih selain bikin mata pedes, agak susah juga buat fokus ngebaca tanpa distraksi. Kepikiran beli kindle, tapi kayaknya belum butuh-butuh banget juga. Hmm, okay mari menulis lagi haha. Bismillah dulu.. Mulai dari seiring berjalannya waktu, sangat mungkin kehilangan orang tersayang. Di sini dijelasin ada empat tahapan masa berduka dari Psikolog John Bowlby, pertama kita akan sangat terhanyut dalam kesedihan, sering mengeluh, dan menyangkal (semisal: kematian seseorang yang kita sayang). Kedua, kita akan merindukan dan mencarinya. Ketiga, kita merasa runtuh dan putus asa, merasa hidup tak berarti, terasingkan dari kehidupan sosial, tidak merasakan perasaan apapun, susah tidur, kehilangan berat badan dan selalu t...

Sudah Seberapa Stoic Kamu? - Insight Buku "Filosofi Teras"

Okay, let's write about a book that so magical. I'm really glad that I've ever read this book. Always thanks to my support system since kindergarten. Buku ini banyak banget highlight yang menarik, saking banyaknya jadi bikin bingung apa yang mau dimasukin ke sini. Bukunya enak banget dibaca tapi hei tapi susah banget praktiknya. Buku ini aku baca tahun lalu, tapi tiap ketemu masalah bikin jadi mikir ah ayo nes terapin ilmunya dari buku yang udah kamu baca. Buku ini nyeritain tentang stoic, yang banyak banget dibahas sama youtuber-youtuber zaman now. Bukunya ditulis sama Henry Manampiring, yang alus banget tulisannya, enak banget dibaca bahkan buat orang yang jumlah bacaan per tahunnya bisa dihitung pake jari. Highlight yang pertama, bahwa manusia sebenernya punya trikotomi kendali, bukan cuma dua, tapi tiga. Apa aja? Yang pertama, hal yang bisa kita kendaliin sama diri kita sendiri adalah opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Lidahmu gak perlu tajem-tajem ke orang...

Seperti Payung Ketika Dibutuhkan - Insight Buku "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?"

  Entah buku terjemahan korea yang keberapa, belakangan berasa menarik aja dibaca. Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? ini ditulis sama Kim Sang Hyun, kurang paham juga dia ini siapa wkkw, tapi karena bukunya lumayan sering sliweran jadinya beli deh. Bukunya super duper tipis dan enak banget buat dibaca di perjalanan kayak foto ini, inget banget ngebaca di kereta Kamandaka tahun 2021 dalam rangka dateng ke nikahan temen kosan zaman kuliah. Dan keinget banget juga waktu itu dia nikah sama orang yang pas aku lihat, wah bahagia banget temenku, wah beruntung banget, ah ternyata masih ada laki-laki baik kok di luar sana. Momen yang entah kenapa aku masih inget aja, semoga bahagia sejahtera selamanya wahai kamu. Ah, isi bukunya? Kurang lebih bener-bener lupa, sampai waktu nulis ini (2023) pengen banget ngebaca ulang wahaha. Kayaknya ini tipe buku yang bakal aku simpen buat dibaca sewaktu-waktu. Nyatanya kalo ngomongin kematian nih berat juga, semakin hari semakin d...