Entah buku keberapa yang dibaca tahun ini, anaknya gak lagi rajin baca buku, Alhamdulillah haha. Tapi mari kita tulis dulu beberapa insightnya, sebelum keburu lupa. Judul bukunya Nunchi, karangan aseli dari Korea, tapi sayang banget terjemahannya agak jelek jadi lumayan loading waktu baca huhu. Nunchi nih kata yang sering banget aku denger kalo lagi nonton variety show, terjemahan kasar dari otak aku, nunchi nih artinya kepekaan. Ternyata gak salah-salah juga le ngartiin wkwk, karena di bawah judul Nunchi ada tulisan Seni Membaca Pikiran dan Perasaan Orang Lain.
Sebenernya ada banyak aturan Nunchi yang ditulis di buku ini, tapi yang mau aku garis bawahi justru tentang mendengarkan, karena perkara mendengarkan ini diulang-ulang terus di buku ini. Insight pertama, di tengah hiruk pikuk teknologi, sering banget denger istilah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, padahal menurut buku ini gak ada yang bisa menandingi pertemuan tatap muka. Kita sebagai manusia masih membutuhkan reaksi-reaksi langsung tanpa media dengan orang-orang di sekitar kita untuk mengertahui apa yang mereka pikirkan. Dan hebatnya, dengan kemampuan membaca, kita bisa memperoleh apa yang kita inginkan dari manusia lain secara efektif. Yaaa meskipun sebenernya kita bukan cenayang yang bisa membaca pikiran orang lain, tapi setidaknya kita lebih peka aja sama keadaan sekitar, keadaan lawan bicara kita.
Insight ke dua, mendengarkan seseorang adalah cara paling cepat untuk mendapat kepercayaan dan afeksi seseorang. Menurut buku ini, setelah pangan dan papan, kebutuhan utama manusia adalah perasaan bahwa ia didengar. Hmm, buat aku yang super cerewet ini, sebenernya kemampuan mendengar ini kudu banget diasah sih. Jujur sampai saat ini, kadang kalo dengerin orang gak fokus, kadang disambi main HP, kadang malah bandingin sama kejadian sendiri. Kalo udah nyadar kek gini, kudu banget stop. Latian dengerin orang dan fokus aja ke ceritanya, tatap matanya, dan dengerin aja. Kadang orang cuma butuh didengerin kok, bukan butuh nasihat. Jadi inget-inget, manusia itu butuh didengar.
Bayangin deh kalo kita yang didenger, sebagai anak quality time, sebenernya seneng banget kalo ada yang bener-bener dengerin cerita kita dengan fokus, natap mata kita, dan bener-bener dengerin, gak disambi, dan paham gitu loh sama yang kita ceritain. Pernah denger, kalo orang yang kita ajak ngobrol itu bener-bener dengerin kita pas lagi certa, pasti kita kerasa lebih enteng deh habis cerita, meskipun cuma dengerin, ternyata itu ngurangin beban orang banget. Kemarin-kemarin pernah ada temen yang bilang "makasih ya udah dengerin, aku lagi butuh cerita", wahh nyes banget, ternyata dengerin orang aja bisa banget ngebantu orang lain. Dan ini didukung juga sama buku ini, buku ini bilang kalo, tiada yang lebih mengasyikan ketimbang seseorang yang mendengarkan kita, dan tiada yang lebih membosankan ketimbang seseorang yang mengubah topik untuk fokus pada dirinya sendiri, atau yang menunjukkan kehebatan dirinya saat bercerita. Katanya, orang-orang ini sama sekali tidak mendengarkan kita, mereka hanya menunggu giliran untuk berbicara.
Insight ke tiga, mengurangi berpikir tentang diri sendiri dan menaruh perhatian pada setiap orang kecuali diri sendiri, mungkin merupakan cara terbaik untuk menjalin hubungan baik yang anda cari. Mungkin selama ini hubunganku dengan orang lain kebanyakan berbicara, bukan mendengarkan. Yuk coba agak diperbaiki pelan-pelan. Mendengarkan.
Insight ke empat, sekarang tentang aspek nunchi ke hubungan kita dengan pasangan, bukan tugas pasangan kita untuk membaca pikiran, dan tanggung jawab kita adalah mengungkapkan kebutuhan dengan jelas dan tenang. Ini mirip sama prinsip stoik sebenernya, kita cuma bisa mengubah cara berbicara kita kepada pasangan, dengan jelas, karena sejatinya mereka gak bisa baca pikiran kita juga, jangan cuma minta dimengerti tanpa pernah menyampaikan keinginan kita dengan baik. Inget ya, Nes.
Insight ke lima, tentang nunchi di tempat kejra. Di tempat kerja baru, banyak mata yang mengawasi dalam beberapa bulan pertama. Simak apa kata pepatah lama, "Orang yang memiliki reputasi sebagai orang yang bangun pagi boleh terus tidur sampai siang." Dengan kata lain, bila kita sudah meninggalkan kesan baik di awal sebagai seseorang yang tekun dan dapat diandalkan, nantinya orang-orang akan mudah sekali memaklumi kita. Selain itu, perlu diingat bahwa di tempat kerja, kita dinilai dari siapa saja kawan-kawan kita. Usahakan lingkungan kita bersama lingkungan yang baik.
Insight terakhir, meski dari zaman kecil udah diajarin dan dikasih tau kalo mulut cuma satu, sedangkan mata sama telinga ada dua, berarti "Perhatikan, perhatikan, perhatikan: dengarkan, dengarkan, dengarkan. Dua mata, dua telinga, satu mulut."

Komentar
Posting Komentar