Okay, mari kita tulis insight penting dari buku ke-dua yang selesai dibaca tahun ini. So proud to myself banget gak sih, tahun 2024 udah baca dua buku, gokil, wkwk. Buku yang kubaca ini judulnya Mindset karya Carol S. Dweck, Ph.D.
Beberapa insight di buku ini aku tulis di sini biar gak lupa, maklum anaknya lupanan banget meski udah baca buku, bahkan selevel buku detektif aja bisa sampe lupa siapa pelakunya dan gimana cara penyelesaiannya wkwk. Insight pertama, kita harus percaya bahwa kualitas diri itu bisa dikembangkan. Gak usah capek-capek ngebuktiin ke semua orang kalau kita hebat, cukup selalu berusaha menjadi lebih baik. Semangat buat mengembangkan diri dan terus melakukannya meskipun keadaan lagi gak berjalan baik. Fokus untuk bertumbuh. Dan mindset bertumbuh ini yang ternyata memungkinkan orang-orang untuk berkembang saat mereka mengalami masa paling menantang dalam hidup mereka, boom!
Insight ke-dua, bakat bukanlah segalanya. Kita menghargai bakat, tapi lebih mengagumi upaya. Apapun upaya yang kita miliki, usahalah yang membangkitkan kemampuan dan mengubahnya menjadi prestasi. Seorang pemenang adalah orang yang bekerja keras, mempertahankan fokus di bawah tekanan, dan mampu mengembangkan diri melampaui kemampuan-kemampuan biasa pada saat mereka harus melakukannya. Dan pencapaian-pencapaian yang penting selalu membutuhkan fokus yang jelas, usaha sekuat tenaga, dan strategi yang tak terbatas. Ditambah, teman dalam proses pembelajaran. Hmm sepertinya menyenangkan jika teman dalam proses pembelajaran itu adalah seorang pasangan dengan mindset tumbuh yang sama, seperti makna pernikahan bagi Laura (seorang tokoh pada buku ini), adalah mendukung perkembangan pasangan.
Insight selanjutnya, tentang perbedaan mindset tetap dan mindset tumbuh. Contoh mindset tetap di buku ini yang mau aku tulis adalah tentang seorang bernama Iacocca yang selalu menyalahkan, mencari-cari alasan, serta menjatuhkan para pengkritik dan pesaingnya merasa superior dan mulai mendominasi, yang akhirnya membunuh kesenangan dan melumpuhkan kreativitasnya. Iacocca gagal, sejalan dengan pelatih bola basket legendaris John Wooden yang mengatakan bahwa, "Anda tidak gagal hingga Anda mulai menyalahkan orang lain." Sedangkan pemimpin bermindset tumbuh, mereka aslinya gak pengen jadi pemimipin. Mereka gak punya kepentingan untuk membuktikan diri mereka. Mereka hanya melakukan apa yang mereka cintai dengan semangat dan antusiasme yang luar biasa, kemudian jalan terbuka dengan sendirinya. Mereka ini juga gak lupa bahwa semua yang mereka lakukan dalam hidup dapat terselesaikan berkat kerja sama dengan orang lain. Pemimpin ini juga percaya bahwa kepemimpinan berkaitan dengan perkembangan dan kasih sayang, bukan kecerdasan.
Insight selanjutnya, berkaitan dengan peran sebagai guru, pelatih, dan orang tua. Buku ini bilang kalo pujian itu gak semuanya bagus. Tapi, kita bisa memuji sebanyak yang kita inginkan untuk proses yang berorientasi pada perkembangan, memuji apa yang telah mereka penuhi melalui latihan, belajar, sikap pantang menyerah, dan strategi yang baik. Kita dapat bertanya mengenai kerja mereka dengan cara yang memuji dan mengapresiasi usaha-usaha serta pilihan-pilihan mereka. Intinya yang dipuji bukan hasilnya, tapi prosesnya. Guru yang bermindset tumbuh suka belajar. Mengajar adalah cara yang mengagumkan untuk belajar, tentang orang-orang dan cara kerja mereka, tentang apa yang anda ajarkan, tentang diri anda, dan tentang kehidupan itu sendiri. Menggunakan pengajaran untuk berkembang akan membuatmu menjadi seorang guru yang lebih segar dan penuh semangat meskipun sudah mengajar bertahun-tahun. Temukan hal menarik dari apa yang dipelajari, kemudian pelajari lebih dalam.
Otak lebih dari sekadar otot, ia berubah menjadi lebih kuat ketika digunakan. Hal ini sudah diteliti oleh banyak ilmuwan yang mampu menunjukkan bagaimana otak berkembang, serta menjadi lebih kuat ketika kita belajar. Setiap hari kamu harus membuat dirimu sendiri menjadi orang yang sedikit lebih baik. Buatlah dirimu melaksanakan tugas untuk menjadi sedikit lebih baik setiap hari selama periode waktu tertentu, maka kamu akan menjadi jauh lebih baik.
Insight terakhir, tentang diskusi dengan keluarga di saat makan malam. Besok kalau udah jadi Ibu, coba tanya sama anak-anak, "Apa yang telah kalian pelajari hari ini, kesalahan apa yang telah kalian lakukan, apakah kesalahan tersebut mengajarkan sesuatu? Seberapa keraskah kalian berusaha hari ini? Apa keterampilan yang dimiliki berkat latihan yang dilakukan?" Sebagai orang tua, kita harus mendorong anak-anak untuk membicarakan cara-cara mereka belajar mencari teman atau memahami dan membantu orang lain, bukan sekadar tentang sekolah atau olahraga.

Komentar
Posting Komentar