Buku yang aku baca waktu bulan puasa 2024, dan sebentar lagi insyaAllah bakalan masuk bulan puasa lagi. Semoga bakal tetep bakal rajin baca di 2025. Semoga waktu luang seteleh ini juga kuhabiskan dengan bijaksana, ceilah.. Buku ini keknya udah terkenal banget sih, masuk buku pengembangan diri yang banyak direkomendasiin dimana-mana.
Insight pertama, kita bisa loh punya lebih banyak teman dalam waktu dua bulan. Caranya? Dengan menjadi lebih tertarik kepada orang lain. Ini bakal lebih efektif dibandingkan kita mencoba membuat orang lain tertarik pada kita selama dua tahun. Agak love hack banget gak sih ini? Mari mencoba berbicara sesuai dengan minat orang lain.
Insight ke dua, bahwa setiap orang berhak dihargai atas momen-momen terbaiknya. Kita bisa banget belajar buat mengapresiasi orang lain. Memusatkan perhatian pada momen-momen terbaik orang lain dan menegaskannya. Yuk coba belajar buat lebih memperhatikan orang lain, bukan mau pamrih. Tapi sungguh kadang kepikiran kira-kira siapa yang bakal dateng ke pemakanku besok, kalo aku orangnya masih egois aja, yuk latihan lebih memperhatikan orang lain.
Insight ke tiga, belajar membantu orang lain. Belakangan keknya aku masih berulang kali perhitungan tiap kali nolongin orang, apalagi kalo orangnya gak deket-deket amat. Mending nolong orang yang kenal sekalian sih wkwk. Padahal ini buku bilang kalo kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tak pernah gagal. Jadi keinget sama orang yang tiba-tiba bayarin parkir padahal gak kenal, ternyata kebaikan itu bener-bener rantai yang gak pernah putus, setelah dibayarin hawanya jadi ingin melakukan hal yang sama ke orang lain.
Insight ke empat, entah online atau offline, banyakin tersenyum. Kalo kita tersenyum, dunia juga bakal tersenyum sama kita. Dan ada alasan dibalik fenomena ini, saat kita tersenyum, kita memberitahu orang lain bahwa kita bahagia bersama mereka, bahagia bertemu mereka, bahagia dapat berinteraksi dengan mereka. Nah, kadang beberapa orang terlalu lelah buat kasih senyuman ke kita. Jadi, ayo kita yang senyum duluan, gak ada yang lebih membutuhkan senyuman dibanding mereka yang tidak memiliki senyuman lagi untuk diberi. Bagi seseorang yang telah menyaksikan begitu bayak orang cemberut, muram, atau memalingkan wajahnya, senyum kita barangkali terasa seperti matahari yang menembus awan, uhuy.
Insight ke lima, how to win friends selanjutnya adalah berkuasa dengan nama. Pernah denger kenapa ada camat yang disayangi sama warganya, ternyata karena beliau hafal sama nama orang lain, bener-bener ada orang dengan jabatan yang bisa hafal orang biasa. Ini aslinya waw banget, karena pernah juga punya kepsek yang gak hafal sama anak buahnya. Jadi ternyata sengefek itu. Kita harus ingat bahwa seseorang lebih tertarik dengan namanya sendiri ketimbang nama orang lain di dunia ini. jika anda mengingat nama orang dan menggunakannya, secara tidak langsung anda telah memberikan pujian yang halus dan sangat efektif. Belajar hafalin nama-nama siswa contohnya.
Insight ke enam, simak lebih lama. Menyimak memiliki kekuatan untuk mengubah hati dan pikiran. Menyimak adalah kekuatan untuk memberikan apa yang sangat diinginkan orang lain, untuk didengar dan dimengeti. sama seperti senyuman, kekuatan menyimak itu besar, saat kita menyimak, kita tidak hanya menimbulkan sebuah kesan yang instan, kita juga membangun sebuah jembatan yang solid untuk hubungan yang berkelanjutan. Siapa yang tidak suka berada di sekitar seseorang yang menunda pikiran-pikirannya agar dapat menghargai pikiran orang lain? Goks. Agar dapat memiliki pengaruh kepada orang lain, agar mereka dapat merasa senang melakukan apa yang kita inginkan, kita hanya tinggal mencari satu derajat yang menghubungkan kita dengan mereka. Minat yang sama, pengalaman yang sama, tujuan yang sama, kebenarannya adalah kita hanya terpisah satu derajat dengan siapapun.
Insight ke tujuh, walaupun bisa menjadi pihak yang benar dan pihak lain salah, tidak ada gunanya mengusik ego seseorang atau merusak sebuah hubungan secara permanen. Cobalah untuk selalu memilih sikap diplomatis, akuilah bahwa bisa jadi kita salah, akuilah bahwa orang lain bisa jadi benar. Tunjukkan sikap yang ramah, lontarkan pertanyaaan. dan yang paling penting, pandang situasi dari sudut orang lain dan tunjukkan rasa hormat pada orang tersebut. Keramahan mendapatkan kerahaman. kita cenderung setuju dengan orang lain saat kita memilki perasaan akrab dengannya
Insight ke delapan, terlibat secara empatik. Kebanyakan orang hanya mencari seseorang yang bersedia mendengarkan mereka dan bersimpati dengan keadaan buruk yang mereka alami, tak peduli seberapa kecil atau besar masalah mereka. Jika kita bisa melakukannya untuk orang lain, berarti kita memberikan hadiah yang mencerahkan harinya, bahkan minggu atau bulannya.
Insight ke sembilan, tentang segera mengakui kesalahan dengan sungguh-sungguh. Semua manusia tidak luput dari kesalahan. Setelah melakukan kesalahan, pasti kita menginginkan kehidupan kita sebelum kesalahan tersebut terjadi. Tetapi kita harus ingat bahwa tidak ada orang yang dapat mengubah keadaan kecuali kita. Bukan tugas orang lain untuk mengembalikan kehidupan yang kita renggut dari kita sendiri. Hanya kita yang bisa mendapatkan kehidupan kita kembali. Hal tersebut selalu diawali dengan pengakuan kesalahan secara cepat dan sungguh-sungguh.
Insight terakhir yang saya dapatkan, yaitu mengatakan kepada seseorang bahwa kita benar-benar percaya terhadap kemampuannya dalam mencapai tujuan. Memberikan semangat kepada orang lain dengan cara menujukkan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dalam mencapai tujuanya yang dia inginkan. Bersikaplah seakan-akan sifat yang kita inginkan dari dirinya sudah menjadi salah satu bagian dari karakteristik luar biasa orang tersebut. Fake it like you make it.
Pada akhirnya, seni mendapatkan teman dan memengaruhi orang lain dalam era digital ditentukan oleh aktivitas menjalin hubungan dan terus berhubungan dalam pijakan yang sama.

Komentar
Posting Komentar